45 Tahun Rekind, Maret Samuel Sueken Dorong Babak Baru Kedaulatan Industri: “Owner Semakin Merah Putih, Kemampuan Membangunnya Harus Berubah”

Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Global Expose TV JAKARTA – Momentum 45 tahun PT Rekayasa Industri (Rekind) dinilai harus menjadi titik balik untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai National EPCC Champion sekaligus motor hilirisasi dan kedaulatan industri Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Komisaris Independen PT Rekayasa Industri, Maret Samuel Sueken, yang menilai perjalanan 45 tahun Rekind tidak semestinya berhenti pada seremoni, tetapi harus menjadi momentum untuk mengevaluasi arah strategis perusahaan di tengah perubahan besar industri nasional.

Menurut Maret, Indonesia kini memasuki fase pembangunan industri yang berbeda dibanding masa lalu. Hilirisasi mineral, kemandirian energi, ketahanan pangan, petrokimia, geothermal, energi terbarukan hingga pembangunan kawasan industri membuka ruang besar bagi penguatan kemampuan engineering dan EPCC nasional.

“Setelah 45 tahun, pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana Rekind mendapatkan proyek. Pertanyaannya adalah bagaimana Rekind menjadi bagian dari strategi Indonesia membangun kedaulatan industri,” tegas Maret.

OWNER STRATEGIS SEMAKIN MERAH PUTIH

Maret melihat terdapat perubahan fundamental dalam struktur industri nasional.

Sejumlah perusahaan strategis seperti Pertamina, PLN, Pupuk Indonesia, MIND ID, ANTAM, INALUM serta berbagai BUMN dan perusahaan nasional kini menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan industri Indonesia.

Perubahan tersebut, menurutnya, harus diikuti perubahan paradigma dalam pelaksanaan proyek EPCC nasional.

“Dulu owner strategisnya belum sepenuhnya bangsa sendiri. Sekarang owner strategisnya semakin Merah Putih. Maka model EPCC-nya juga harus berubah,” ujarnya.

Namun ia menegaskan, penguatan perusahaan EPCC nasional bukan berarti sikap anti-asing maupun anti-swasta.

Perusahaan global tetap dibutuhkan dan harus diberi ruang untuk berkompetisi. Justru kompetisi tersebut dinilai penting agar perusahaan nasional semakin profesional, efisien dan berdaya saing.

“Bukan anti-asing. Bukan anti-swasta. Tetapi pro-Indonesia,” tegasnya.

EPCC ADALAH KEDAULATAN KEMAMPUAN INDUSTRI

Maret menilai EPCC tidak boleh dipandang hanya sebagai pekerjaan konstruksi.

Di dalamnya terdapat engineering, technology, intellectual property, project management, procurement, supply chain, fabrication, construction, commissioning, quality assurance, HSE serta kemampuan SDM.

Menurutnya, ketika Indonesia membangun proyek industri bernilai puluhan bahkan ratusan triliun rupiah, yang seharusnya terbentuk bukan hanya fasilitas fisik.

Tetapi juga knowledge, engineering capability, vendor ecosystem, SDM, technology know-how dan project management capability.

“Kalau kita hanya membangun pabriknya di Indonesia tetapi kemampuan engineering, teknologi, pengalaman dan sebagian besar nilai strategisnya tetap berada di luar negeri, maka kita baru melakukan hilirisasi produk. Kita belum sepenuhnya melakukan hilirisasi kemampuan industri,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong agar konsep hilirisasi diperluas.

Bukan hanya:

tambang → smelter → produk jadi.

Tetapi harus menjadi:

Engineering → Procurement → Fabrication → Construction → Commissioning → Operation → Technology → SDM.

“Inilah yang saya sebut hilirisasi kemampuan bangsa,” katanya.

NEW REKIND, NATIONAL EPCC CHAMPION

Maret mengungkapkan visinya agar Rekind memasuki babak baru sebagai Indonesia’s National EPCC Champion.

Menurutnya, Rekind memiliki modal strategis berupa pengalaman puluhan tahun, SDM profesional, project references, engineering database, vendor network, project management system, quality system, HSE culture serta pengalaman membangun berbagai proyek industri.

Seluruh modal tersebut, katanya, harus dipandang sebagai national strategic capital.

Rekind, lanjutnya, tidak cukup hanya menjadi perusahaan yang mengejar kontrak. Perusahaan harus berkembang menjadi industrial integrator yang mampu menghubungkan engineering, teknologi, procurement, fabrikasi, konstruksi, commissioning, logistik, SDM dan supply chain nasional.

Ruang pengembangannya sangat luas, mulai dari hilirisasi mineral, energi, oil and gas, petrokimia, ketahanan pangan, geothermal, renewable energy, industrial utilities hingga strategic infrastructure.

OTAK, TANGAN DAN KAKI HARUS TERINTEGRASI

Untuk menjadi perusahaan EPCC kelas dunia, Maret menilai Rekind harus memiliki tiga kekuatan utama yang terintegrasi.

Otak, berupa engineering, technology dan intellectual property.

Tangan, berupa fabrication dan manufacturing capability.

Kaki, berupa jetty, logistics dan industrial infrastructure.

Ketiganya harus terhubung dalam satu ekosistem:

ENGINEERING → FABRICATION → JETTY → LOGISTICS → CONSTRUCTION → COMMISSIONING.

“Dengan integrasi tersebut, Rekind tidak hanya menjadi kontraktor. Rekind harus menjadi industrial execution platform,” tegasnya.

SDM DAN TKDN HARUS NAIK KELAS

Maret juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Engineer, project manager, planner, commissioning engineer, welder, fabricator, instrument engineer, electrical engineer, process engineer hingga profesional HSE harus semakin banyak berasal dari dan berkembang di dalam negeri.

Menurutnya, TKDN tidak boleh berhenti pada sekadar angka persentase.

“TKDN harus diterjemahkan menjadi semakin banyak kemampuan bangsa yang tinggal di dalam negeri,” ujarnya.

Ia mendorong keterhubungan antara SMK, perguruan tinggi, industri, vendor lokal dan proyek-proyek strategis nasional.

Dengan demikian, setiap proyek bukan hanya menghasilkan fasilitas, tetapi juga menciptakan tenaga ahli, vendor nasional, fabrikator, perusahaan engineering, lapangan pekerjaan dan transfer knowledge.

REKIND HARUS SEHAT SEBELUM BEREKSPANSI

Meski memiliki visi besar, Maret menegaskan transformasi Rekind harus dimulai dari penguatan fundamental perusahaan.

Prioritasnya adalah menyelesaikan proyek-proyek bermasalah, mempercepat pemulihan piutang dan cashflow, mengendalikan exposure, membangun kembali kredibilitas serta memperbaiki model bisnis EPCC.

Rekind juga harus memperkuat governance, project control, engineering, disiplin risiko dan kesehatan finansial.

“National champion tidak dibangun dengan proyek yang membuat perusahaan bangkrut. National champion dibangun dengan kompetensi, disiplin, governance, teknologi, pengalaman dan dukungan ekosistem nasional,” tegasnya.

DARI PROYEK NASIONAL MENUJU PASAR GLOBAL

Mimpi besar Maret tidak berhenti pada penguatan pasar domestik.

Ia mendorong proyek nasional dijadikan school of excellence bagi Rekind untuk membangun standar engineering, database, vendor ecosystem, SDM, kemampuan bonding dan kapasitas finansial.

Setelah fondasi tersebut kuat, Rekind harus berani masuk ke pasar regional hingga global.

“Proyek nasional bukan tempat Rekind berlindung. Proyek nasional harus menjadi launching pad menuju pasar global,” katanya.

Pasar ASEAN, Asia, Timur Tengah, Afrika hingga pasar internasional lainnya dinilai menjadi ruang yang dapat dibidik ketika kemampuan dan fundamental perusahaan telah semakin kuat.

45 TAHUN BUKAN AKHIR, TETAPI AWAL BABAK BARU

Maret menilai momentum 45 tahun Rekind harus menjadi awal perjalanan baru.

Indonesia saat ini memiliki momentum besar melalui hilirisasi mineral, kemandirian energi, ketahanan pangan, transisi energi, kawasan industri dan pembangunan infrastruktur strategis.

“Owner strategisnya semakin Merah Putih. Maka kita harus memastikan nilai tambah industrinya juga semakin Merah Putih,” ujarnya.

Ia menegaskan, memperkuat perusahaan nasional bukan berarti menutup kompetisi. Sebaliknya, Indonesia harus memiliki perusahaan nasional yang cukup kuat untuk berkompetisi secara terbuka dengan pemain global.

Karena itu, ia membayangkan transformasi Rekind:

Dari perusahaan engineering nasional, menjadi National EPCC Champion, dan selanjutnya menjadi Global EPCC Player dari Indonesia.

Maret menutup pandangannya dengan pesan yang tegas:

“Kalau owner strategisnya semakin Merah Putih, maka kemampuan membangunnya juga harus semakin Merah Putih.”

“Merah Putih harus hadir bukan hanya di bendera, tetapi juga di engineering, teknologi, industri, SDM dan nilai tambahnya.” 🇮🇩

Facebook Comments Box

Penulis : S Bahri dan team

Editor : Korwil

Sumber Berita: 45 Tahun Rekind, Maret Samuel Sueken Dorong Babak Baru Kedaulatan Industri: “Owner Semakin Merah Putih, Kemampuan Membangunnya Harus Berubah”

Berita Terkait

KRYD Polresta Balikpapan Diperkuat, Karhutla Diantisipasi dan Operasi Keselamatan 2026 Dimatangkan
Polwan dan Bhayangkari Kaltim Salurkan 200 Paket Gula, Wujud Kepedulian kepada Warga Prapatan
Perkuat Sinergitas TNI-Polri, Kapolsek Loa Janan Bawa Tumpeng HUT ke-81 TNI
Gerak Cepat Tim Respon Bencana Brimob Kaltim Amankan TKP Dugaan Orang Jatuh di Apartemen Borneo Bay
Polsek Teluk Pandan Pastikan Stok BBM Aman, Dua SPBU Dipantau Ketat
Usai Nobar Final Indonesia vs Thailand, Polisi dan Warga Gotong Royong Bersihkan Sampah di Tugu Tangan Gunung Pasir
HUT Ke-81 TNI di Makodam VI/Mulawarman, Soliditas TNI-Polri Makin Kokoh Jaga Kamtibmas
Tim Psikologi Polda Kaltim Uji Kesiapan Mental Personel Polres Berau, Pemegang Senpi Jadi Perhatian
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:28 WIB

KRYD Polresta Balikpapan Diperkuat, Karhutla Diantisipasi dan Operasi Keselamatan 2026 Dimatangkan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Polwan dan Bhayangkari Kaltim Salurkan 200 Paket Gula, Wujud Kepedulian kepada Warga Prapatan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Gerak Cepat Tim Respon Bencana Brimob Kaltim Amankan TKP Dugaan Orang Jatuh di Apartemen Borneo Bay

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:02 WIB

Polsek Teluk Pandan Pastikan Stok BBM Aman, Dua SPBU Dipantau Ketat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:24 WIB

Usai Nobar Final Indonesia vs Thailand, Polisi dan Warga Gotong Royong Bersihkan Sampah di Tugu Tangan Gunung Pasir

Berita Terbaru