Global Expose TV Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim-Sejumlah kendala yang terjadi pada pertanian dan perikanan, dimana beberapa keluhan muncul baik dibidang budidaya ikan air tawar atau petani holti kultura, yang menjadi keluahan adalah tingginya tingkat keasaman pada media baik air maupun tanah, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman bukan itu saja bahkan membuat bibit ikan menjadi mati dan gagal ketika dibudidayakan.
Kondisi tersebut tidak harus menjadi kecemasan yang mengakibatkan kegagalan, berdasarkan penjelasan yang disajikan Beja Santosa banyak solusi yang bisa ditempuh untuk mengatasi semua itu, ini diungkap Beja Santosa, salah seorang Petugas Tehnis Lapangan pada Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Ia mengklaim dapat membuat satu formula dimana apabila air atau tanah yang memiliki Ph 4 dapat Menjadi 7, dan Ph 5 menjadi 8 dalam waktu 24 jam, yang mana membuat ikan yang seharusnya tidak hidup menjadi hidup, kegagalan dunia pertanian dan perikanan di Kabupaten PPU ini menurut dia sepele saja.
Misalnya, pada dunia perikanan, masyarakat punya kolam entah kerambah, kolam tanah atau sungai, begitu ada media, ada airnya tanpa pikir panjang masyarakat belikan benih, lalu dimasukkan benih tersebut ke dalam kolam, beberapa hari kemudian ketika ditanya bagai mana kondisi ikannya, jawabnya ikan mati, ada yang hidup hanya beberapa ekor atau sebagian hidup tapi tidak bisa menjadi besar, kata dia itu permasalahannya.
“Sekarang suksesnya budidaya ikan air tawar cukup sederhana menurut saya, yang pertama jangan paksakan ketika media atau air yang di dalamnya belum ada tanda tanda kehidupan, caranya bagai mana, terlebih dahulu tebar organik kedalam kolam, disana ada proses seperti fotosintesis, itu terjadi asimilasi daun dan seterusnya, organik itu nanti kena mata hari dia akan berubah menjadi plankton, menjadi renik air, nah tolak ukurnya kalau ada renik air hidup disitu berarti ikan juga bisa hidup,” jelas Beja Santosa.
Warga Desa Sebakung Jaya RT 002, Kecamatan Babulu ini menjelaskan, organik buatannya itu tidaklah seperti yang kebanyakn organik produk yang dipasarkan, ia katakan organik yang benar benar sudah terproses, organik yang bukan seperti yang dibicarakan orang asal organik, tapi tegas dia organik yang sudah diproses.
Dikatakannya, Kabupaten PPU memiliki potensi yang luar biasa, dengan demikian ia berharap agar masyarakatnya dapat mengembangkan minatnya dibidang perikanan dan partanian berbasis organik, tidak harus merasa ribet, ia mengaku telah melakukan hal tersebut sudah puluhan tahun dan tak pernah berhenti, kendati hal ini kata dia sering disepelekan banyak orang, bahkan pejabat pun ada yang meremehkan, kata dia dirinya bukan iri sama pemerintah, ia hanya merenungkan sampai kapan petani di PPU harus terus menerus mengalami ketidak majuan.
Orang tahunya imbuh dia panen itu pane ini, panen raya, semestinya prosesnya dulu yang dipresentasikan, kata dia kalau ada yang datang ke rumah nya ia akan tunjukkan bagaimana proses budidaya ikan dari awalnya, demikian juga soal tanaman holtikulturanya, bahkan Beja Santosa mengklaim metode yang ia terapkan bukan didapat dari akdemisi tapi berdasarkan pengalamannya sen diri.
“Bahkan pada ulangtahun PPU ke 22, saya sempat bertemu dengan seorang profesor bernama Krisna, iapun sempat heran dengan apa yang saya lakukan, permasalahannya baik dunia pertanian maupun perikanan itu hanya seperti itu, selalau kendalanya adalah lahan yang memiliki tingkat keasama yang sangat tinggi,” paparnya.
Yang perlu digaris bawahi kata dia, dua persoalan, pertama kadar asam tinggi terjadi karena memang lokasi itu asam, kedua keasaman itu tetrjadi akibat penggunaan pestisida yang berlebihan, akhirnya terjadi seperti itu.
Beja sempat bercerita sewaktu ada peresmian balai benih ikan air tawar di Keluraghan Nenang, air disana sebut dia tak ubahnya seperti air aki, asam luar biasa, benih ikan dimasukkan pagi, sorenya pada mati, mengatasi tingkat keasaman yang berlebihan seperti itu perlu perhatian serius dan tidak dibenarkan penggunaan pestisida yang berlebihan, Santosa menyebutkan konsepnya adalah dari alam kembali ke alam, yang mampu menyembuhkan tingkat keasaman kata dia solusinya hanyalah dengan jalan penerapan organik.
“Saya ceritakan, pada tahun 1995 Desa Babulu Laut itu terkenal dengan ikan bandeng dan udang, sekarang suruh bilang begitu, tidak mungkin lagi, yang mana sejumlah tambak atau empang sudah pada mangkrak semua, itu disewakan saja orang sudah tak mau, karena unsur haranya sudah habis, nah sekarang yang bisa mengambalikan unsur hara seperti itu hanyalah organik,” ujar dia meyakinkan.
“Saya memiliki produk organik yang dapat memulihkan unsur hara, tak hanya sampai disitu, bahkan dari Kalsel saja saya pernah mendapatkan pesanan yang jumlahnya cukup besar, bahkan beberapa orang Pemkab nya datang ke rumah ingin tahu tentang konsep yang saya terapkan, mereka mencobanya kemudian hari mereka memberi tahukan. Mereka mengatakan kalau mereka berhasil, sehingga mereka memberikan penghargaaan kepada saya, ada piagam penghargaannya di rumah, tak ketinggalan Pemkab PPU juga memberikan penghargaaan serupa, di ulang tahun PPU ke 22,” ujarnya.
“Organik produk saya bisa diterjemahkan menjadi P3, bisa menjadi perangsang, penyubur, dan penagkal penyakit. Produknya berupa cairan dan berupa serbuk, saat ini saya tengah menggagas trobosan baru, dimana udang losterpun bisa hidup di tempat saya, padahal ditempat saya airnya memiliki kadar asam yang tinggi tapi berkat konsep yang saya terpakan, losterpun bisa hidu padahal tadinya ikan nila saja susah hidup,” ujarnya.
Penulis : Iskandar/Edison Jalal
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Humas Kabupaten Penajam Paser Utara












