Global Expise TV Kabupaten Cirebon – 18 April 2026. Suasana Desa Bangodua, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, mendadak hidup. Malam itu, ratusan warga tumpah ruah memadati lokasi pertunjukan. Bukan sekadar hiburan, pagelaran wayang kulit menjadi penanda kuat: tradisi masih berdiri, belum tumbang oleh zaman.
Gelaran ini merupakan bagian dari ritual Mapag Sri, tradisi pascapanen yang sarat makna. Warga menyambut simbol kesuburan dan kesejahteraan melalui figur Dewi Sri—sebuah keyakinan turun-temurun yang tetap dijaga di tengah gempuran modernitas.
Sorotan utama malam itu tertuju pada Sanggar Seni Budaya Smara “Langgeng Penggalih” di bawah pimpinan dalang Ki Anung Akirna. Dengan gaya khasnya, sang dalang membawakan lakon yang tak hanya menghibur, tetapi juga menyelipkan kritik sosial dan nilai-nilai kehidupan yang dekat dengan realitas petani.
Panggung dihiasi ukiran kayu khas Cirebon. Ratusan wayang tersusun rapi—bukan sekadar properti, tetapi simbol kesiapan menyampaikan pesan. Di balik layar, kisah klasik berpadu dengan kearifan lokal, menyentil isu kebersamaan, kerja keras, hingga pentingnya menjaga tradisi.
Kuwu Desa Bangodua, Miskad, menegaskan kegiatan ini bukan acara seremonial biasa. “Ini agenda rutin hasil musyawarah masyarakat. Bentuk syukur atas hasil panen sekaligus upaya menjaga warisan leluhur agar tidak hilang,” ujarnya.
Ia juga menekankan, wayang kulit bukan sekadar tontonan. “Di dalamnya ada nilai pendidikan, filosofi hidup, dan ajaran budi pekerti untuk generasi muda,” tambahnya.
Di sisi lain, antusiasme warga terlihat jelas. Anak-anak hingga orang tua larut dalam pertunjukan. Bagi generasi muda, ini menjadi ruang belajar budaya. Sementara bagi orang tua, momen ini dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi.
Namun di balik kemeriahan itu, terselip pesan yang lebih dalam: tradisi seperti Mapag Sri hanya akan bertahan jika terus dirawat, bukan sekadar dipertontonkan. Ketika budaya mulai tersisih oleh hiburan instan, panggung seperti ini menjadi garis pertahanan terakhir.
Pagelaran wayang kulit di Bangodua seolah mengingatkan—di tengah arus zaman yang kian deras, identitas lokal tidak boleh sekadar jadi cerita masa lalu. Ia harus tetap hidup, bergerak, dan diwariskan.
Sanggar Seni Langgeng Penggalih pun menyatakan komitmennya untuk terus hadir dalam setiap ruang budaya di Cirebon. Bagi mereka, menjaga tradisi bukan pilihan—melainkan keharusan.
Penulis : Hartono
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Pertunjukan Seni Wayang KulitMeriahkan Mapag Sri Di Desa Bangodua












