Global Expose TV Kabupaten Cirebon – Udin dan Amin tampak asyik berbincang di Situ Pajaten. Selagi mulut kedua bapak-bapak asal Desa Cikalahang itu sibuk komat-kamit ngomongin kehidupan, kedua tangan mereka juga cekatan memainkan joran dan mamasang umpan di kail.
Tangan Amin lebih sibuk ketimbang Udin. Kail pancing Amin beberapa kali langsung diterkam ikan mas Situ Pajaten.
Ukuran ikannya masih kecil-kecil. Namun Amin tetap bersyukur. Sedangkan Udin, beberapa kali mendapat ikan dengan ukuran ideal.
Air Situ Pajaten pagi itu tampak begitu tenang. Situ di bawah kaki Gunung Ciremai ini menyimpan kesejukan dan menjadi saksi bapak-bapak desa melepas penatnya kehidupan.
Rimbun pepohonan, lembutnya angin gunung yang menyentuh kulit, desir daun, serta suara kail menghantam air mendobrak dopamin dalam tubuh.
Situ Pajaten bukan sekadar tempat memancing. Ia seperti ruang jeda bagi orang-orang yang ingin menenangkan kepala.
Selain Udin dan Amin, beberapa pemancing lainnya duduk berjarak. Ada yang datang sendiri membawa termos kopi dan rokok kretek, ada pula pasangan yang menikmati pagi sambil memegang joran.
Namun mata mereka tak pernah teralihkan dari pelampung yang kerap bergerak pelan di permukaan air.
Udin bisa dibilang sebagai pengunjung setia Situ Pajaten yang berada di Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang.
Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu di sana. Baginya, memancing bukan sekadar hobi, melainkan cara menikmati hidup dengan lebih tenang.
“Saya dari dulu mancing. Sudah 40 tahunan hobi mancing. Dari mulai di sungai, laut, kalau sekarang rutinnya di sini. Karena murah, sehari bayar Rp30 ribu,” katanya sambil menatap pelampung di tengah Situ.
Kadang ia membawa pulang ikan besar, kadang hanya ikan kecil. Namun baginya, hasil tangkapan bukan hal utama. Ada rasa damai yang sulit dicari di tempat lain.
“Kalau masih kecil, saya di rumah ada kolam. Jadi bisa dibesarkan dulu,” ujar Udin.
Pada akhir pekan, Situ Pajaten biasanya lebih ramai. Event lomba memancing rutin digelar dan menarik peserta dari berbagai daerah. Namun suasana tetap terasa akrab dan bersahaja.
Udin menilai keberadaan wisata pemancingan memberi manfaat bagi banyak orang. Selain menggerakkan ekonomi warga, tempat itu juga menjadi ruang pelarian dari kebiasaan buruk.
“Saya sangat mendukung wisata pemancingan ini. Bagus juga. Bisa jadi banyak orang yang terbantu dengan wisata mancing ini. Kan, banyak orang yang memancing untuk menghilangkan kecanduan judi,” tuturnya.
Kalimat itu diamini Amin. “Ya, betul. Daripada kecanduan judi. Jadi kita pilih mancing. Udah gitu, Situ Pajaten ini juga dekat dengan rumah. Berharap ini terus dirawat. Pehobi mancing punya wadah,” katanya.
Bekas Galian Situ Pajaten memang tumbuh dari kisah panjang masyarakat desa. Ketua BPD Cikalahang, Endo Suwanda menuturkan, kawasan itu dahulu merupakan bekas cekungan galian batu pada awal 1990-an.
Namun dari dasar tanah, muncul sumber mata air besar yang terus mengalir hingga akhirnya membentuk situ alami.
“Alhamdulillah akhirnya, ternyata bahwa di sini ada sumburan mata air yang cukup besar,” ujarnya.
Warga kemudian mempertahankan genangan air itu hingga berkembang menjadi danau kecil yang kini dikenal sebagai Situ Pajaten.
Nama ‘Pajaten’, menurut Endo, berasal dari kisah lama yang berkaitan dengan legenda pertarungan pada masa Kerajaan Galuh Pakuan dan Prabu Siliwangi.
Kini, Situ tersebut perlahan tumbuh menjadi wajah wisata alam baru di Kabupaten Cirebon.
Sementara itu, Kepala Desa atau Kuwu Cikalahang, Kusnan mengatakan, pemerintah desa bersama warga terus melakukan penataan agar kawasan itu semakin nyaman dikunjungi.
“Sekarang juga setiap bulannya ramailah, lumayan ya. Hampir 300 pengunjung di Situ,” katanya.
Selain wisata pemancingan, Desa Cikalahang juga menyiapkan konsep wisata lain seperti bumi perkemahan tematik, agroeduwisata, hingga jeep adventure menyusuri kawasan sekitar Gunung Ciremai dan area eks galian.
“Jadi, kalau misalkan wisata keluarga juga ada, wisata hobi juga ada, wisata petualangan juga ada,” ujar Kusnan.
Menuju Situ Pajaten pun relatif mudah. Akses kendaraan roda dua maupun roda empat sudah tersedia.
Penulis : Sutari
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Menikmati Syahdunya Situ Pajaten Cikalahang, Ruang Jeda di Kaki Ciremai












