Global Expose TV Jakarta, 4 Agustus 2026 – Transformasi Polri menuju institusi yang modern dan adaptif tidak hanya diwujudkan melalui penguatan pelayanan dan penegakan hukum, tetapi juga dengan membangun budaya inovasi di seluruh jenjang kepangkatan. Semangat tersebut ditegaskan Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, yang mendorong setiap personel untuk terus belajar, meneliti, dan mengembangkan kompetensi sesuai bidang keilmuannya demi menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Sosok Bripda Muhammad Putra Aulia menjadi representasi nyata dari semangat tersebut. Berbekal latar belakang akademik di bidang peternakan, pengalaman profesional di industri, serta dedikasi sebagai anggota Polri, ia berhasil melahirkan berbagai inovasi yang mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat implementasi konsep Green Policing.
Lulusan Program Studi Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau itu meraih predikat Cum Laude dengan IPK 3,80. Penelitiannya mengenai optimalisasi produksi gelatin halal dari kaki ayam menggunakan metode hidrolisis enzim papain menjadi salah satu kontribusi ilmiah dalam pengembangan teknologi hasil ternak dan industri pangan halal. Kini, Bripda Putra melanjutkan pendidikan Magister Peternakan di Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi Nutrisi Ternak, mengembangkan riset mengenai feed additive berbasis asam amino guna meningkatkan efisiensi Feed Conversion Ratio (FCR) dan produktivitas peternakan nasional.
Sebelum menjadi anggota Polri melalui jalur Bintara Kompetensi Khusus, Bripda Putra telah meniti karier di sejumlah perusahaan nasional. Pengalamannya sebagai Farm Manager di PT Charoen Pokphand Indonesia, Farm Manager Quality Control di PT Malindo Feedmill Indonesia, hingga Tenaga Ahli Quality Assurance di industri air minum demineral memperkaya kompetensinya dalam bidang biosekuriti, nutrisi ternak, pengendalian mutu, serta penerapan standar HACCP, GMP, BPOM, dan SNI.
Kompetensi tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai inovasi saat bertugas di Polda Riau. Salah satunya adalah Fertiplus Harmoni Hijau, pupuk ramah lingkungan yang telah diproduksi lebih dari 5,2 ton dan didistribusikan ke seluruh Polres dan Polsek jajaran Polda Riau sebagai dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Ia juga menciptakan Densifur, disinfektan sulfur multifungsi yang bermanfaat bagi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, serta sejumlah inovasi lain yang meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Dedikasi tersebut membuahkan berbagai penghargaan, di antaranya Siswa Terfavorit, Serdik Terinovatif, Satya Mitra Utama, serta apresiasi dari Kepala Pusdik Binmas Polri. Inovasinya juga mendapat perhatian publik melalui berbagai media nasional dan menjadi bagian dari implementasi konsep Green Innovation dalam paradigma Green Policing yang diinisiasi Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan bersama Universitas Riau.
Kapolda Riau menjelaskan bahwa Green Policing merupakan paradigma pemolisian yang menempatkan perlindungan lingkungan sebagai bagian integral dari pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ancaman terhadap lingkungan seperti kebakaran hutan dan lahan, pembalakan liar, pencemaran, hingga perubahan iklim dipandang sebagai isu yang memiliki dampak langsung terhadap stabilitas sosial, ekonomi, dan keselamatan masyarakat.
Paradigma tersebut dibangun melalui tiga pilar utama, yakni prevention, law enforcement, dan restoration, yang diperkuat oleh budaya organisasi melalui Green Leadership, Green Mindset, Green Culture, dan Green Innovation. Dalam kerangka inilah inovasi Bripda Muhammad Putra Aulia menjadi contoh konkret bagaimana kompetensi akademik anggota Polri mampu diterjemahkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Wakapolri menegaskan bahwa transformasi Polri membutuhkan semakin banyak personel yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pengabdian di lapangan.
“Pangkat bukan alasan ataupun penghalang untuk terus mengembangkan diri. Setiap anggota Polri memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meneliti, berinovasi, dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat. Passion terhadap ilmu pengetahuan harus menjadi energi untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” ujar Wakapolri.
Menurutnya, Bripda Muhammad Putra Aulia membuktikan bahwa kompetensi akademik dapat menjadi kekuatan institusi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Inilah wajah Polri yang ingin kita bangun. Anggota yang tidak berhenti belajar, mampu mengembangkan keilmuannya, kemudian mengimplementasikannya untuk kepentingan masyarakat. Kompetensi yang dimiliki setiap personel harus menjadi kekuatan institusi dalam mendukung program-program nasional, mulai dari ketahanan pangan, lingkungan hidup, kesehatan, teknologi, hingga pelayanan publik,” tegasnya.
Untuk memperkuat budaya inovasi tersebut, Polri terus memperluas kolaborasi dengan dunia akademik melalui jejaring Pusat Studi Kepolisian STIK-PTIK Lemdiklat Polri di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Hingga saat ini telah terbentuk 79 Pusat Studi Kepolisian, terdiri atas 40 pusat studi yang telah beroperasi, lima dalam tahap penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), dan 34 lainnya dalam proses pembentukan.
Melalui jejaring tersebut, Polri mendorong lahirnya ekosistem Police Science berbasis riset, inovasi, dan evidence-based policing, yang melibatkan personel Polri, akademisi, peneliti, mahasiswa, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
“Polri harus menjadi rumah bagi inovasi sekaligus mitra strategis perguruan tinggi dalam melahirkan solusi bagi bangsa. Siapa pun anggotanya, apa pun pangkatnya, ketika memiliki gagasan, riset, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, maka harus diberikan ruang untuk berkembang,” tutup Wakapolri.
Penulis : S bahri dan team
Editor : Korwil
Sumber Berita: Wakapolri Dorong Budaya Inovasi di Polri, Bripda Muhammad Putra Aulia Jadi Teladan Bhayangkara Berbasis Ilmu Pengetahuan












