“Kisah Seorang Profesional yang Mengubah Prasangka Menjadi Pengabdian”
JAKARTA – Tidak semua titik balik dalam kehidupan lahir dari ruang rapat, panggung politik, atau keputusan besar yang direncanakan dengan matang. Senin, 31/8/2026.
Ada kalanya, sebuah perubahan justru bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: secangkir kopi, sebatang rokok, sebuah televisi, dan sebuah berita yang datang tanpa diduga.
Bagi Maret Samuel Sueken, titik balik itu terjadi di tengah Laut Cina Selatan, kawasan Natuna, pada akhir April 2010.
Saat itu, ia sedang menjalankan tugas profesional dalam proyek ANOA Phase 4 – AGX Compression Reconfiguration Project – Premier Oil Indonesia. Jabatannya ketika itu adalah EI and Pre-Commissioning/Commissioning Manager.
Selama sekitar dua belas tahun sejak menyelesaikan pendidikan tinggi, hidup Maret lebih banyak dihabiskan di dunia profesional industri kontraktor minyak dan gas bumi. Pekerjaannya membawanya berpindah dari satu proyek ke proyek lainnya, dari darat hingga offshore, di dalam maupun luar negeri.
Dunia yang ia kenal adalah dunia teknis: target, keselamatan kerja, disiplin, tanggung jawab, manajemen proyek, dan bagaimana memastikan pekerjaan selesai dengan baik.
Politik bukan dunianya.
Ia bahkan mengaku bukan orang yang gemar mengikuti berita politik. Baginya, karier dan pekerjaan merupakan bagian penting dalam kehidupan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menjalankan tanggung jawab terhadap keluarga.
Namun, sebuah sore sekitar pukul 17.30 di tengah rutinitas pekerjaan offshore yang melelahkan, semuanya berubah.
SATU ANGKA YANG MEMBUATNYA MARAH
Secangkir kopi dan sebatang rokok menemani Maret menonton televisi.
Sebuah berita politik muncul.
Seorang wali kota diberitakan meraih tingkat keterpilihan yang sangat tinggi, sekitar 92 persen berdasarkan hasil sementara yang diberitakan saat itu.
Angka tersebut sontak menarik perhatiannya.
Bukan karena ia tertarik pada politik, melainkan karena angka itu membangkitkan memori lama.
Maret adalah bagian dari generasi yang mengalami pergolakan Reformasi 1998. Di kota asalnya, ia pernah terlibat dalam gerakan mahasiswa yang menuntut perubahan dan ikut menyuarakan desakan agar Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Karena pengalaman tersebut, angka sekitar 92 persen justru membuatnya curiga.
Siapa orang ini?
Bagaimana mungkin seorang kepala daerah mendapatkan dukungan sebesar itu?
Apakah masyarakat benar-benar mendukungnya?
Atau jangan-jangan ada kekuatan politik dan uang di belakangnya?
Prasangka itu bahkan membawanya pada sebuah kesimpulan awal: mungkin saja masyarakat telah dibeli.
Kemarahannya kembali muncul.
Semangat aktivis 1998 yang selama bertahun-tahun tenggelam dalam kesibukan profesional seolah bangkit kembali.
Ia bahkan sempat berpikir untuk menghubungi kembali sahabat-sahabat seperjuangannya pada 1998.
Tetapi kemudian ia mengambil keputusan yang justru mengubah seluruh perjalanan hidupnya.
Ia memilih mencari tahu.
DARI CURIGA MENJADI PENASARAN
Dari tengah offshore, Maret mulai menggali berbagai informasi yang bisa ia akses.
Ia membaca berita melalui internet. Membandingkan informasi dari berbagai media. Mencari tahu siapa sebenarnya sosok yang diberitakan tersebut.
Bahkan, ia memesan koran dari darat untuk dikirimkan ke offshore melalui helikopter yang datang setiap pagi sekitar pukul 09.00.
Pertanyaannya sederhana:
Siapa sebenarnya orang ini?
Benarkah ia seorang “orang kuat”?
Benarkah kemenangan itu dibeli?
Benarkah ada kekuatan politik besar di belakangnya?
Atau ada sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui?
Maret mencari jawabannya.
Dan jawabannya datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Tidak sampai 12 jam, prasangkanya mulai runtuh.
YANG DITEMUKANNYA BUKAN KEKUATAN, MELAINKAN KETELADANAN
Berbagai informasi dari media elektronik maupun media cetak memberikan gambaran yang hampir sama.
Sosok tersebut justru dikenal karena kesederhanaan, kejujuran, pelayanan, pengabdian, kerja keras, dan kedekatannya dengan rakyat.
Maret mulai memahami bahwa dukungan besar yang diperoleh bukan semata-mata karena uang atau kekuatan politik.
Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih kuat:
Keteladanan.
Rakyat melihat, merasakan, dan kemudian memberikan kepercayaan.
Prasangka yang semula melahirkan kemarahan perlahan berubah menjadi kekaguman.
Dari seorang profesional yang awalnya curiga, Maret justru menemukan sosok yang menurutnya layak menjadi inspirasi.
Saat itulah lahir sebuah keyakinan pribadi:
“Orang seperti ini jangan hanya menjadi pemimpin di sebuah kota. Orang seperti ini harus diberi kesempatan menjadi pemimpin masa depan Indonesia.”
Dari situlah perjalanan Maret sebagai relawan mulai tumbuh.
BUKAN POLITIKNYA YANG MEMBUATNYA TERPANGGIL
Maret menegaskan, yang pertama kali menarik perhatiannya bukan politik.
Melainkan keteladanan.
Ia kemudian bergabung dengan sejumlah kelompok dan komunitas masyarakat yang mendukung sosok tersebut melalui media sosial.
Ketika sosok itu kemudian maju dalam kontestasi untuk menjadi DKI 1, gerakan masyarakat semakin berkembang.
Informasi tentang prestasi, kesederhanaan, pelayanan, dan keteladanan terus disebarluaskan.
Gerakan yang awalnya lahir dari dunia maya kemudian menjalar menjadi gerakan nyata.
Sosok yang sebelumnya hanya ia kenal dari layar televisi perlahan menjadi figur yang ia yakini memiliki kapasitas untuk memimpin lebih jauh.
Dan perjalanan itu akhirnya bergerak dari Solo, Jakarta, hingga Indonesia.
DARI JPK MENUJU GERAKAN NASIONAL
Ketika pembicaraan mengenai Pemilihan Presiden Republik Indonesia mulai menguat, muncul gagasan di antara para relawan di media sosial:
Mengapa sosok tersebut tidak didorong menjadi Presiden Republik Indonesia?
Dari gagasan itulah lahir sebuah grup Facebook bernama:
JPK – Jokowi Presiden Ku.
Maret langsung bergabung.
Gerakannya berkembang sangat cepat. Dalam waktu kurang dari empat jam, jumlah anggota disebut telah mencapai lebih dari 2.000 orang.
Dari sana, diskusi, penyebaran informasi, dan konsolidasi relawan terus berkembang.
Sebelum Maret keluar dari grup tersebut, jumlah anggotanya telah mencapai lebih dari 600.000 orang. Ia sendiri pernah menjadi salah satu administrator.
Namun bagi Maret, angka itu bukan sekadar statistik.
Itu adalah gambaran tentang besarnya energi masyarakat pada saat itu.
Energi yang bergerak:
Dari Eropa ke Indonesia.
Dari Facebook ke dunia nyata.
KETIKA RELAWAN TIDAK BOLEH BERHENTI SETELAH PEMILU
Pengalaman tersebut kemudian melahirkan satu pemikiran penting dalam diri Maret.
Kerelawanan tidak boleh berhenti ketika kontestasi politik selesai.
Relawan tidak seharusnya hanya hadir ketika membutuhkan dukungan politik.
Justru setelah pemilu selesai, menurutnya, pekerjaan relawan yang sesungguhnya dimulai.
Relawan harus kembali kepada rakyat.
Mendengar persoalan mereka.
Mengawal kebijakan.
Menyampaikan aspirasi.
Dan memastikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat.
Dari pemikiran itulah kemudian lahir JPKP – Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan.
JPKP: DARI DUKUNGAN POLITIK MENJADI PENGABDIAN
JPKP didirikan sebagai wadah pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat.
Bukan partai politik.
Bukan kendaraan untuk mengejar jabatan.
Bukan organisasi yang dibangun untuk mengejar kekuasaan.
JPKP adalah ruang bagi orang-orang yang merasa terpanggil untuk mengabdi.
Karena itu, JPKP terbuka bagi siapa saja, apa pun latar belakang dan warna organisasinya.
Tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, tetapi juga tidak alergi terhadap partai politik maupun kelompok masyarakat lainnya.
Bagi Maret, pengabdian kepada masyarakat tidak boleh dibatasi oleh warna.
Yang paling penting adalah niat, kerja nyata, dan manfaat.
18 JANUARI 2015: DARI NATUNA KE TUGU PROKLAMASI
Perjalanan panjang tersebut akhirnya mencapai salah satu tonggak penting.
Pada 18 Januari 2015, JPKP dideklarasikan di Tugu Proklamasi, Jakarta.
Maret hadir bersama kawan-kawan dan sahabat relawan yang menjadi bagian penting dari sejarah awal deklarasi tersebut.
Namun ia menegaskan bahwa status Pendiri sebagaimana tercantum dalam akta adalah Maret Samuel Sueken.
Pemilihan Tugu Proklamasi bukan tanpa makna.
Di tempat yang menjadi simbol lahirnya Indonesia merdeka itu, ia membawa gagasan sederhana:
Energi kerelawanan harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pengabdian nyata.
Karena itu, perjalanan tersebut kemudian ia maknai sebagai sebuah rangkaian:
AKTIVIS 98 → PROFESIONAL → NATUNA → JPK → TUGU PROKLAMASI → JPKP → HARI INI
ROH JPKP: BLUSUKAN DAN CITIZENS JOURNALISM
Sejak awal, JPKP membawa roh:
Blusukan. Kesederhanaan. Kejujuran. Pelayanan. Pengabdian. Kerja keras.
JPKP meyakini bahwa persoalan rakyat tidak selalu terlihat dari balik meja.
Karena itu, harus turun langsung.
Datang kepada masyarakat.
Melihat persoalan.
Berbicara dengan mereka.
Mendengar apa yang mereka rasakan.
Berbuat.
Mencari jalan keluar.
Memberikan solusi dan saran.
Kemudian melaporkannya berdasarkan data faktual di lapangan.
Dari situlah lahir motto:
BOTTOM UP, CITIZENS JOURNALISM.
Sebuah cara kerja yang dimulai dari lingkungan terkecil menuju persoalan yang lebih besar.
DATANG – MELIHAT – BERBICARA – MENDENGAR – BERBUAT – MEMBERIKAN SOLUSI DAN SARAN – MELAPORKAN.
Bagi JPKP, itulah makna sesungguhnya dari kerelawanan.
BUKAN SEKADAR MASSA, TETAPI MATA DAN TELINGA RAKYAT
Maret semakin meyakini bahwa relawan tidak boleh hanya diukur dari jumlah massa.
Ribuan relawan jangan hanya menjadi angka.
Ribuan orang jangan hanya menjadi kerumunan.
Mereka harus menjadi mata dan telinga masyarakat.
Datang ke desa.
Melihat persoalan.
Mendengar rakyat.
Mengumpulkan data.
Mencari solusi.
Menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan instansi teknis.
Kemudian mengawal agar persoalan tersebut mendapatkan perhatian dan penyelesaian.
Karena bagi Maret:
Kerelawanan tidak seharusnya berhenti ketika pemilu selesai. Justru setelah pemilu selesai, pekerjaan relawan yang sebenarnya dimulai.
SAYA BUKAN RELAWAN YANG MENCOBA MENJADI PROFESIONAL
Ada satu hal yang selalu ingin ditegaskan Maret.
Menjadi relawan tidak membuatnya meninggalkan profesi.
Ia tetap seorang profesional.
Tetap bekerja di dunia teknik, energi, oil and gas, EPCC, project management, governance, dan pengawasan.
Justru pengalaman profesional itulah yang ia bawa ke dalam pengabdian.
Karena itu, ia memiliki sebuah kalimat yang menjadi prinsip:
“Saya bukan relawan yang mencoba menjadi profesional. Saya adalah seorang profesional yang memilih menjadi relawan.”
Baginya, ilmu dan pengalaman tidak seharusnya berhenti untuk kepentingan pribadi.
Ada saatnya ilmu dikembalikan kepada masyarakat.
Ada saatnya pengalaman digunakan untuk membantu orang lain.
Dan ada saatnya manusia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang diperoleh.
Tetapi juga tentang apa yang dapat diberikan.
JPKP HARI INI: KETIKA PENGABDIAN HARUS TERASA
Sejak dideklarasikan pada 18 Januari 2015, JPKP terus bergerak di berbagai daerah Indonesia.
Berbagai kegiatan dilakukan dalam bidang sosial, kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, pertanian, kelautan, nelayan, agraria, hukum, administrasi kependudukan, infrastruktur, lingkungan, ekonomi masyarakat, UMKM, energi, seni, budaya, olahraga, pariwisata, serta berbagai persoalan pembangunan lainnya.
Namun Maret tidak menjadikan banyaknya kegiatan dan foto sebagai ukuran utama keberhasilan.
Menurutnya, ukuran keberhasilan JPKP jauh lebih sederhana:
Apakah keberadaan JPKP benar-benar dirasakan masyarakat?
Terutama oleh mereka yang miskin, lemah, terpinggirkan, dan menghadapi ketidakadilan.
Ketika masyarakat tidak tahu harus mengadu kepada siapa, JPKP berusaha mendampingi.
Ketika masyarakat menghadapi persoalan, JPKP membantu mencari jalan keluar.
Ketika persoalan membutuhkan pemerintah, JPKP menghubungkannya.
Ketika membutuhkan instansi teknis, JPKP mendorong penyelesaiannya.
Dan ketika membutuhkan data, JPKP turun ke lapangan untuk mengumpulkannya.
Itulah JPKP.
MENGAPA “SANG TELADAN”?
Maret tidak pernah mengatakan bahwa seorang manusia adalah manusia yang sempurna.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Namun seseorang dapat menjadi teladan ketika perilaku, kesederhanaan, kerja keras, keberanian turun ke bawah, pelayanan, dan kedekatannya dengan rakyat mampu menginspirasi orang lain untuk ikut berbuat.
Itulah yang ia lihat pada 2010.
Seorang profesional yang semula curiga.
Kemudian memilih mencari tahu.
Menemukan fakta.
Mengubah pandangan.
Menemukan keteladanan.
Dan akhirnya terpanggil untuk ikut mengabdi.
Bukan karena diperintah.
Bukan karena mendapatkan jabatan.
Bukan karena mengejar keuntungan.
Tetapi karena menemukan sesuatu yang diyakini layak diperjuangkan:
KETELADANAN.
PERJALANAN YANG BELUM SELESAI
Hari ini, ketika menengok kembali perjalanan tersebut, Maret melihat sebuah garis panjang yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Dari aktivis yang merasakan pergolakan 1998.
Menjadi profesional.
Bekerja bertahun-tahun di berbagai proyek di dalam dan luar negeri.
Berada di tengah Laut Cina Selatan.
Menemukan sosok yang awalnya justru ia curigai.
Mencari tahu.
Menemukan fakta.
Mengubah pandangan.
Menemukan keteladanan.
Bergabung dalam gerakan JPK – Jokowi Presiden Ku.
Menjadi bagian dari perjalanan kerelawanan.
Hingga akhirnya mendirikan JPKP.
Bagi Maret, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan politik.
Ini adalah perjalanan perubahan cara pandang.
Dari prasangka menjadi pencarian fakta.
Dari curiga menjadi percaya.
Dari penonton menjadi pelaku.
Dari media sosial menjadi dunia nyata.
Dari aksi massa menjadi aksi nyata.
Dari dukungan politik menjadi pengabdian kepada masyarakat.
EPILOG: DARI NATUNA, MENEMUKAN PANGGILAN
Kini Maret memahami bahwa terkadang Tuhan mempertemukan seseorang dengan manusia lain bukan untuk membuatnya menjadi seperti orang tersebut.
Melainkan untuk mengingatkan tentang nilai-nilai yang seharusnya diperjuangkan dalam hidup.
Pertemuan itu tidak terjadi di ruang rapat.
Tidak di gedung pemerintahan.
Tidak pula di panggung politik.
Pertemuan itu justru bermula di tengah Laut Cina Selatan, kawasan Natuna, setelah sebuah hari kerja yang panjang, ditemani secangkir kopi, sebatang rokok, dan sebuah berita di televisi.
Dari sana semuanya bermula.
Curiga.
Mencari tahu.
Menemukan fakta.
Mengubah pandangan.
Menemukan keteladanan.
Kemudian terpanggil untuk mengabdi.
Dan perjalanan itu akhirnya membawa Maret sampai kepada JPKP.
Karena itu, ketika ditanya mengapa ia menjadi relawan, jawabannya sederhana:
“Saya tidak mencari jalan menjadi relawan. Saya menemukan sebuah keteladanan yang membuat saya terpanggil untuk mengabdi.”
Perjalanan itu kemudian menjadi garis merah kehidupannya:
AKTIVIS 98 → PROFESIONAL → NATUNA → JPK → TUGU PROKLAMASI → JPKP → HARI INI
Dari Laut Natuna, ia menemukan Sang Teladan.
Dari keteladanan, ia menemukan panggilan.
Dari panggilan, ia menemukan jalan pengabdian.
Dari Facebook, mereka bergerak ke dunia nyata.
Dari aksi massa, mereka belajar melakukan aksi nyata.
Dari dukungan politik, mereka kembali kepada rakyat.
Dan sampai hari ini, perjalanan itu belum selesai.
Salam Sang Teladan.
Maret Samuel SUEKEN
Pendiri/Ketua Umum JPKP
Penulis : S Bahri dan team
Editor : Korwil
Sumber Berita: DARI LAUT NATUNA, SAYA MENEMUKAN SANG TELADAN












