Pangdam VI/Mulawarman: Wartawan Berada di Garis Depan Perang Informasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Global Expose TV Kota BALIKPAPAN – Perang modern tak lagi semata-mata berlangsung di medan tempur dengan senjata dan kekuatan militer. Pertarungan kini juga bergerak ke ruang publik, membidik opini, persepsi, dan kesadaran masyarakat melalui narasi, pemberitaan, serta media sosial.

Dalam konteks tersebut, media massa dan wartawan dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu kekuatan penting dalam menghadapi perang informasi.

Hal itu disampaikan Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono saat berbincang santai bersama sejumlah wartawan di Warung Makan Yogyakarta Istimewa, Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan, Sabtu (29/8/2026).

Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab tersebut, Pangdam menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah wajah konflik. Peperangan tidak lagi hanya mempertemukan kombatan dengan kombatan, tetapi juga melibatkan kekuatan nonmiliter yang bergerak melalui berbagai ruang, termasuk informasi.

“Peperangan tidak hanya kekuatan militer atau kombatan melawan kombatan. Non-kombatan juga terjadi. Seiring kemajuan teknologi dan zaman, berbagai pola dalam peperangan juga berkembang,” ujar Krido.

Menurutnya, konflik modern memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga informasi dapat menjadi instrumen yang menentukan arah dan eskalasi suatu konflik.

Di tengah kondisi tersebut, media memiliki daya pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan opini publik. Sebuah narasi yang disebarkan secara masif dapat membentuk persepsi masyarakat, bahkan dalam situasi tertentu mampu memperbesar sebuah persoalan yang pada awalnya kecil.

“Media adalah kekuatan besar kita bersama untuk memenangkan pertempuran. Sekarang kita bisa melihat, di berbagai negara, bukan hanya di Indonesia, narasi-narasi yang dilontarkan melalui media juga bisa menjadikan suatu konflik menjadi besar,” katanya.

Pangdam bahkan menilai kemenangan dalam perang informasi dapat menjadi bagian dari kemenangan dalam konflik secara keseluruhan, baik pada dimensi fisik maupun nonfisik.

Namun, kekuatan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab besar. Karena itu, Krido mengingatkan agar wartawan tetap berpijak pada prinsip-prinsip jurnalistik: data, fakta, verifikasi, keberimbangan, dan kepentingan masyarakat.

Ia menekankan bahwa media tidak harus selalu memberitakan sisi buruk ataupun semata-mata mengangkat sisi positif. Yang paling penting adalah menghadirkan kondisi sebenarnya secara proporsional kepada publik.

“Apabila ada yang memang tidak baik, diberitakan yang tidak baik. Apabila ada yang baik, diberitakan yang baik. Ketika melihat komposisinya, sejauh mana ini baik dan sejauh mana ini jelek, ketika ternyata banyak baiknya, kita harus secara jujur mengekspos yang baik,” tuturnya.

Narasi Berlebihan Bisa Memicu Konflik

Pangdam juga memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan media sosial yang memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik.

Menurutnya, persoalan yang sesungguhnya sederhana dapat berubah menjadi konflik yang lebih besar ketika dibungkus dengan narasi berlebihan, tidak proporsional, atau tidak sesuai fakta.

“Kadang-kadang masalah yang sebetulnya sepele, kecil, kemudian dikembuskan dengan narasi yang hebat sehingga seolah-olah menjadi besar impact-nya,” ungkap Krido.

Kondisi tersebut semakin berisiko karena generasi saat ini sangat dekat dengan teknologi digital dan menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber utama informasi.

“Generasi-generasi yang sekarang memegang digital, yang mendapatkan informasi melalui media sosial, bisa menjadi terpengaruh. Hal-hal kecil ini bisa menjadi provokasi dan bahkan menjadikan kerugian bagi kita semuanya,” jelasnya.

Karena itu, ia mengajak insan pers untuk tidak ikut terseret dalam arus informasi yang hanya mengejar kecepatan dan sensasi, tetapi tetap mengedepankan kualitas serta akurasi pemberitaan.

Bagi Pangdam, wartawan bukan sekadar profesi yang menyampaikan informasi. Di tengah perubahan karakter konflik modern, insan pers juga berada di garis depan dalam menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan.

“Untuk Bapak-bapak wartawan, berikan yang terbaik. Wartawan juga menjadi energi, menjadi bagian dari perang di garis depan secara digital, secara publikasi,” tegasnya.

Media, Aparat dan Masyarakat Harus Bersinergi

Krido juga menegaskan pentingnya masyarakat sebagai kekuatan utama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan bangsa.

Menurutnya, kekuatan tersebut akan semakin solid apabila pemerintah, aparat keamanan, media, dan masyarakat membangun komunikasi yang sehat serta saling memperkuat.

Media, lanjutnya, diharapkan tidak hanya menjadi kanal penyebaran informasi, tetapi juga berperan memberikan edukasi dan pencerahan kepada masyarakat.

“Jatuhnya rakyat itu kekuatan yang terbaik,” ujarnya.

Pesan Pangdam tersebut menegaskan satu hal: di era perang informasi, pena, kamera, layar ponsel, dan narasi memiliki daya pengaruh yang tak kalah besar dari kekuatan konvensional.

Satu berita yang lahir dari fakta dan verifikasi dapat membantu masyarakat memahami persoalan secara utuh. Sebaliknya, satu informasi yang keliru, provokatif, atau dibesar-besarkan dapat memicu keresahan dan memperluas dampak sebuah persoalan.

Karena itu, kebebasan pers dan tanggung jawab jurnalistik harus berjalan beriringan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, wartawan dituntut bukan hanya cepat, tetapi juga tepat. Bukan sekadar mampu membangun perhatian publik, tetapi juga mampu menjaga publik dari informasi yang menyesatkan.

Sebab dalam perang informasi, siapa yang mampu menguasai narasi dapat memengaruhi persepsi. Namun, siapa yang mampu menjaga narasi tetap berpijak pada fakta, turut menjaga masyarakat dan kepentingan bangsa.

Facebook Comments Box

Penulis : S Bahri

Editor : Korwil Provinsi Kaltim

Sumber Berita: Pangdam VI/Mulawarman: Wartawan Berada di Garis Depan Perang Informasi

Berita Terkait

KRYD Polresta Balikpapan Diperkuat, Karhutla Diantisipasi dan Operasi Keselamatan 2026 Dimatangkan
Polwan dan Bhayangkari Kaltim Salurkan 200 Paket Gula, Wujud Kepedulian kepada Warga Prapatan
Perkuat Sinergitas TNI-Polri, Kapolsek Loa Janan Bawa Tumpeng HUT ke-81 TNI
Gerak Cepat Tim Respon Bencana Brimob Kaltim Amankan TKP Dugaan Orang Jatuh di Apartemen Borneo Bay
Polsek Teluk Pandan Pastikan Stok BBM Aman, Dua SPBU Dipantau Ketat
Usai Nobar Final Indonesia vs Thailand, Polisi dan Warga Gotong Royong Bersihkan Sampah di Tugu Tangan Gunung Pasir
HUT Ke-81 TNI di Makodam VI/Mulawarman, Soliditas TNI-Polri Makin Kokoh Jaga Kamtibmas
Tim Psikologi Polda Kaltim Uji Kesiapan Mental Personel Polres Berau, Pemegang Senpi Jadi Perhatian
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:28 WIB

KRYD Polresta Balikpapan Diperkuat, Karhutla Diantisipasi dan Operasi Keselamatan 2026 Dimatangkan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Polwan dan Bhayangkari Kaltim Salurkan 200 Paket Gula, Wujud Kepedulian kepada Warga Prapatan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Gerak Cepat Tim Respon Bencana Brimob Kaltim Amankan TKP Dugaan Orang Jatuh di Apartemen Borneo Bay

Selasa, 6 Oktober 2026 - 09:02 WIB

Polsek Teluk Pandan Pastikan Stok BBM Aman, Dua SPBU Dipantau Ketat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:24 WIB

Usai Nobar Final Indonesia vs Thailand, Polisi dan Warga Gotong Royong Bersihkan Sampah di Tugu Tangan Gunung Pasir

Berita Terbaru