Global Expose TV Kabupaten Pandeglang, Banten – Pada Minggu 20 Juli 2025, Sekitar 70 Kepala Keluarga (KK) di Kampung Dungus Kueng, RT 004 RW 003, Desa Tangkil Sari, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, harus rela berjalan kaki sejauh satu kilometer setiap hari hanya untuk mandi dan mencuci. Mereka menggantungkan hidup pada satu-satunya sumber air yang tersisa: mata air alami bernama Bulakan.
Air bersih, yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar, kini berubah menjadi kemewahan di kampung ini. Warga terpaksa antre dan berbagi air yang debitnya pun terbatas.
“Untuk mandi saja harus jalan kaki sejauh satu kilometer. Kadang harus antre panjang, padahal cuma mau bilas badan,” ujar Ibu Ijah (50), salah satu warga yang ditemui di lokasi.
Masalah ini bukan baru kemarin sore. Sudah berlangsung lama, namun belum juga ada langkah nyata dari pemerintah daerah. Tak sedikit warga yang mencoba menggali sumur sendiri, namun usaha mereka sia-sia. Struktur tanah yang didominasi batu keras membuat sumur manual mustahil dibuat.
“Tanahnya batu semua. Banyak yang ingin buat sumur, tapi ya mentok di batu. Akhirnya tetap harus jalan jauh ke Bulakan,” keluh Ibu Ijah.
Kondisi ini memprihatinkan, terlebih di tengah gembar-gembor pembangunan dan janji pelayanan publik yang profesional dan merata. Warga pun mulai bertanya-tanya, di mana peran pemerintah yang katanya jujur, independen, dan berpihak pada rakyat kecil?
“Kami ini cuma minta air bersih, bukan minta dibangunkan gedung mewah,” sindir salah satu tokoh warga yang enggan disebut namanya.
Masyarakat Kampung Dungus Kueng sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Mereka menanti langkah konkret seperti pengeboran sumur dalam atau pembangunan sarana air bersih yang layak. Karena hidup tanpa air bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal kemanusiaan.
Penulis : Edi Junaedi
Editor : Sukadi
Sumber Berita: 70 KK di Dungus Kueng Krisis Air Bersih, Pemerintah Masih Sibuk Urus Hal Lain?












