Global Expose TV Kabupaten Pandeglang, Banten – Pada Senin, 16 Juni 2025, Pendidikan di pelosok Kabupaten Pandeglang, Banten, kembali menampilkan wajah ironisnya. Di tengah gembar-gembor pembangunan dan pemerataan pendidikan, para guru di SD Negeri Mekarsari 3, Kampung Leuwimenteng, Desa Mekarsari, Kecamatan Bojong, justru berjibaku dengan kondisi infrastruktur sekolah yang memprihatinkan.
Sekolah dasar negeri itu hanya memiliki empat ruang kelas aktif, dengan satu ruang terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang guru karena tidak adanya fasilitas memadai. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam situasi yang serba terbatas dan tidak ideal.
“Setiap tahun kami ajukan proposal penambahan ruang kelas dan perbaikan jalan ke dinas terkait. Tapi hasilnya nihil. Pemerintah seperti tutup mata,” ujar salah satu guru, yang enggan disebut namanya karena alasan kenyamanan.
Tak hanya ruang kelas, akses menuju sekolah juga menyimpan bahaya. Jalan penghubung ke sekolah rusak parah, berlubang di sana-sini, dan berubah menjadi kubangan saat hujan datang. Anak-anak yang berjalan kaki setiap hari harus berjuang melewati lintasan berlumpur, licin, dan rawan kecelakaan.
Ironisnya, keluhan ini sudah berulang kali disuarakan, tapi tak kunjung mendapat respons dari pemerintah daerah maupun pusat. Tahun berganti, program-program digulirkan, namun anak-anak Mekarsari 3 tetap belajar dalam keterbatasan, seakan mereka bukan bagian dari narasi besar “Indonesia Emas” yang sering digaungkan para elite kekuasaan.
“Jalan itu bukan sekadar soal infrastruktur. Itu soal keselamatan anak-anak kami. Kalau ruang kelas tak ditambah, bagaimana kami bisa mendidik dengan optimal?” kata guru itu, lirih namun tegas.
Kondisi ini menjadi cermin buram wajah pendidikan di daerah. Pemerintah tampaknya abai terhadap hak dasar anak-anak untuk belajar di ruang yang layak dan aman. Janji-janji pembangunan yang didengungkan setiap tahun seolah hanya menjadi jargon kampanye, tak menyentuh realitas paling dasar di lapangan.
Masyarakat Mekarsari bersama para guru berharap, kritik ini tidak dianggap angin lalu. Dinas Pendidikan, Dinas PUPR, hingga para wakil rakyat yang duduk nyaman di kursi parlemen dituntut segera turun tangan, bukan hanya membuat studi atau rapat koordinasi tanpa aksi nyata.
Pendidikan bukan sekadar kurikulum. Ia butuh ruang yang layak, akses jalan yang aman, dan perhatian serius dari mereka yang digaji dari uang rakyat.
Penulis : Oman
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Sekolah Kekurangan Ruang Kelas, Jalan Rusak Bertahun-tahun Tak Tersentuh Perbaikan












