Global Expose TV Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur – 22 April 2026. Di tengah padatnya pengabdian sebagai perwira kepolisian, Arif membuktikan bahwa dahaga akan ilmu tak mengenal pangkat, usia, atau dalih kesibukan. Rabu (22/4) siang, pria yang kini menyandang pangkat Komisaris Polisi itu berdiri di podium wisuda. Gelar Sarjana Akuntansi dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi tersemat di belakang namanya.
Arif, putra Sidoarjo yang lahir di Probolinggo pada 17 Februari 1979, adalah anak kedua dari tiga bersaudara pasangan almarhum H. Ma’ruf Abrori dan Hj. Hanifah. Ia tumbuh dalam rumah yang meletakkan pendidikan di tempat paling mulia. Nilai itulah yang ia genggam erat, bahkan ketika pundaknya telah memikul tanggung jawab besar sebagai penegak hukum.
Hari ini, Arif mengabdi di Polda Jawa Timur sebagai auditor di Inspektorat Pengawasan Daerah (Itwasda). Tugasnya jauh dari ringan: menelisik kinerja, menakar anggaran dan keuangan, serta memastikan pengawasan internal berjalan lurus sesuai marwah institusi. Dari ruang tugas itulah panggilan untuk memperdalam akuntansi menguat. “Motivasi utama saya adalah untuk menunjang profesi sebagai auditor internal,” ujar ayah lima anak ini. Kedekatan Kampus Unusa dengan tempat dinas serta akreditasi unggul yang disandang menjadi alasan yang menggenapkan pilihannya.
Keputusan kembali ke bangku kuliah bukan tanpa getir. Di antara tugas yang tak kenal jam, Arif harus menakar waktu dengan cermat. Beruntung, sistem pembelajaran fleksibel Unusa—dengan kuliah daring sore hingga malam—menjadi jembatan yang memungkinkan pengabdian dan pendidikan berjalan beriringan. “Tantangan terbesar biasanya saat tugas insidentil bertepatan dengan jadwal ujian. Di situ saya harus benar-benar mengatur waktu dan energi,” Ucapnya.
Di balik toga yang kini ia kenakan, ada barisan dukungan yang tak putus. Sang istri, dr. Maya Kurniawati, SpOG (K), menjadi penyangga semangat agar Arif terus bertumbuh. Rekan-rekan di lingkungan kerja pun mengalirkan dorongan moral yang menguatkan.
Wisuda bukan titik akhir. Arif telah menatap jenjang berikutnya: Magister Akuntansi. Sebab baginya, akuntansi bukan sekadar disiplin ilmu, melainkan kebutuhan profesi. Ia ingin memastikan setiap kebijakan, setiap angka, dan setiap laporan yang ia tanda tangani berdiri di atas landasan keilmuan yang kokoh.
Lebih dari sekadar capaian akademik, kisah Arif adalah cerita tentang keteguhan. Tentang keputusan untuk tidak berhenti belajar ketika hidup telah mapan. Tentang keberanian melangkah lebih jauh saat banyak orang memilih kata cukup.
Melalui perjalanannya, Arif menitip pesan kepada rekan sejawat di kepolisian maupun instansi lain: jangan ragu melanjutkan pendidikan. “Sekarang banyak pilihan kuliah fleksibel yang tidak mengganggu jam dinas. Unusa menjadi salah satu pilihan yang sangat baik, tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga membentuk karakter,” imbuhnya.
Kisah Arif menjadi penanda bahwa di tengah tuntutan profesi, semangat belajar tetap dapat tumbuh dan berbuah prestasi. Bahwa pendidikan adalah ziarah seumur hidup—tak peduli seberapa sibuk peran yang kita emban,pungkasnya.
Penulis : Abdul Hadi
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Ketika Seragam Bertemu Toga, Kisah Komisaris Polisi Arif Faisol Efendi Raih Sarjana Akuntansi di Tengah Tugas Negara












