Global Expose TV Bandung, Jawa Barat – 25 Agustus 2025. Kasus dugaan rekayasa penangkapan terhadap HF, warga Sukabumi yang dituding sebagai pengguna narkotika, membuka luka lama: hukum sering kali tajam ke bawah, namun tumpul ke atas.
Bagaimana mungkin seseorang dengan hasil tes urine negatif tetap dipaksa menjadi “tersangka”, bahkan diserahkan ke sebuah yayasan rehabilitasi tanpa dokumen resmi? Lebih ironis, pihak keluarga tidak menerima surat penangkapan maupun penahanan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ini jelas merupakan pelecehan terhadap prosedur hukum dan hak asasi manusia.
Yang lebih mencengangkan, pihak Yayasan Cakra Sehat Jawa Barat diduga meminta uang tebusan hingga puluhan juta rupiah dengan dalih “biaya perawatan”. Keluarga pasien mengaku dipaksa menyerahkan uang tersebut. Namun setelah uang diterima, tidak ada kwitansi resmi yang diberikan. Pihak yayasan hanya membuat catatan sepihak tanp
a salinan untuk keluarga.
Lebih jauh, saat ditanya mengenai berita acara penyerahan pasien rehabilitasi dari Polda ke pihak yayasan, pengurus yayasan juga tidak mampu memperlihatkan dokumen resmi. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa proses penyaluran pasien ke yayasan penuh dengan kejanggalan.
Puluhan pasien dijejalkan dalam ruangan sempit berukuran sekitar 6×6 meter. Hak-hak mereka diabaikan, dan mereka seolah dijadikan komoditas yang diperdagangkan antara aparat dan yayasan. Apakah ini yang disebut rehabilitasi? Ataukah penjara gelap berkedok penyelamatan generasi?
Praktik ini patut diduga sebagai bentuk pemerasan terstruktur yang melibatkan oknum penegak hukum dan institusi swasta. Jika dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap aparat akan semakin runtuh. Korban berikutnya hanya tinggal menunggu giliran.
Sudah saatnya Kapolda Jawa Barat, BNN, hingga Mabes Polri turun tangan. Jangan biarkan hukum dipermainkan demi keuntungan segelintir orang. Rehabilitasi harus dikembalikan pada fungsinya: menyembuhkan, bukan memeras.
Sebab jika hukum bisa diperdagangkan, maka yang miskin akan selalu menjadi korban, sementara yang berduit bisa membeli kebebasan. Inilah wajah paling telanjang dari ketidakadilan di negeri ini.
Penulis : Ahmad Ruskanda
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Dugaan Pemerasan Berkedok Yayasan Rehabilitasi












