Global Expose TV Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa 12 Mei 2026. Di saat umat bersiap menyambut Idulfitri dengan suka cita, kabar yang mencoreng marwah justru berembus dari Tegalsiwalan. Publik di kecamatan itu dihebohkan oleh dugaan praktik pungutan liar yang menyertai penyaluran insentif guru ngaji pada 20–22 Maret 2026.
Insentif yang sejatinya menjadi wujud apresiasi Pemerintah Daerah atas dedikasi para penjaga moral umat itu diduga ternoda oleh ulah oknum. Nama seorang pengurus MWC NU Kecamatan Tegalsiwalan terseret dalam pusaran dugaan pungli tersebut. Senin, 11 Mei 2026.
Dugaan pungli itu berlangsung senyap, di kediaman para guru ngaji. Oknum yang datang menyalurkan insentif disebut-sebut meminta “jatah” dari setiap penerima. Meski nilainya tidak terlampau besar, praktik itu diduga menyasar seluruh guru ngaji penerima bantuan di wilayah Tegalsiwalan,imbuhnya.
Yang membuat dahi berkernyit, pungutan tersebut mengalir tanpa kejelasan peruntukan. Tak ada kuitansi, tak ada pertanggungjawaban. Publik pun menilai, jika benar terjadi, perbuatan itu bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan penistaan terhadap marwah Nahdlatul Ulama—organisasi yang lahir dari rahim pesantren dan membesarkan guru-guru ngaji.
Padahal insentif itu digulirkan sebagai bentuk penghormatan negara kepada mereka yang dengan ikhlas mengajar Al-Qur’an, menanamkan akhlak, dan menjaga nyala obor keagamaan di pelosok desa, terutama menjelang Lebaran.
Tim media menelusuri kabar itu dan berhasil mengonfirmasi salah satu guru ngaji di Tegalsiwalan. Dengan suara bergetar, ia meminta identitasnya disamarkan demi keamanan.
“Beliau datang ke rumah menyerahkan insentif. Setelah itu, beliau yang mengaku pengurus NU meminta sejumlah uang. Saya tawarkan lebih kecil, tidak diterima. Katanya harus sesuai. Di desa saya saja ada sekitar 20 guru ngaji yang menerima,” tuturnya lirih.
Dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, oknum pengurus MWC NU Tegalsiwalan berinisial “SH” hanya membalas singkat.
“Wa’alaikum salam. Tabayyun dulu akurasi infonya, Mas.”
Ketika tim media berupaya menggali lebih jauh untuk mendapat klarifikasi berimbang, pesan berikutnya tak lagi berbalas. Bungkam,ungkapnya.
Ketua DPC Projamin Kabupaten Probolinggo sekaligus personel komunitas Pakopak angkat bicara. Ia mengaku prihatin sekaligus geram jika dugaan itu terbukti.
“Ini sungguh kami sesalkan. Tidak pantas ada yang berlindung di balik kebesaran nama NU untuk melakukan perbuatan tercela. NU bukan tameng untuk menutupi yang batil. Jika benar, ini jelas mencederai jam’iyah dan menodai pengabdian para kiai kampung,”Pungkasnya.
Penulis : Abdul Hadi
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Jangan Korbankan Marwah NU: Pakopak Kecam Dugaan Pungli Guru Ngaji Di Tegal Siwalan












