Global Expose TV Kabupaten Garut – Di tengah keterbatasan dan nyaris tanpa dukungan dari pemerintah daerah, seorang anak asal Garut berhasil menembus dunia sepak bola nasional bahkan hingga ke luar negeri. Ia adalah Miraj Rizky Sulaeman, anak bungsu dari pasangan guru, Waskandar dan Nunung Nuryati, yang telah menorehkan prestasi gemilang sejak usia dini.
Miraj memulai perjalanannya di dunia sepak bola sejak usia 7 tahun. Ketertarikannya muncul saat melihat kakak-kakaknya berlatih. Ia kemudian bergabung dengan SSB Mandala Cikajang dan pada usia 9 tahun lolos seleksi klub sepak bola usia dini di Jakarta, SSB Alba.
“Kami sangat bangga, tapi juga berat. Biaya pulang-pergi Garut–Jakarta setiap minggu mencapai setengah juta rupiah. Sering kali kami tidur di emperan masjid atau warung kosong karena tidak sanggup bayar penginapan,” kata Waskandar dalam wawancara tertulis dengan Redaksi Global Expose TV.
Tekanan ekonomi memaksa keluarga ini menjual barang, bahkan berutang. Dalam keadaan terdesak, Waskandar mengajukan proposal bantuan ke instansi terkait seperti Dispora, Disdik, KONI, Askab, dan Persigar. Namun hasilnya mengecewakan.
“Jawabannya sama semua: tidak ada anggarannya. Saya sempat menangis. Anak saya masih SD waktu itu. Kami hanya ingin dia terus melanjutkan mimpinya,” ungkapnya.
Meski tak mendapat bantuan daerah, keajaiban datang. Pada akhir 2019, Miraj lolos seleksi akademi Farmel Katawachi dan mulai menerima beasiswa penuh, termasuk uang makan, uang jajan, serta fasilitas asrama.
Sejak bergabung dengan Farmel, karier Miraj melesat. Ia berhasil menyabet gelar individu bergengsi seperti:
Best Player IJL KU 13 & 14
Best Player Se-Provinsi Banten KU 13
Best Player Liga TopSkor Jakarta dan Nasional
Best Player Singa Cup (luar negeri)
Man of the Match EFA Liga 1 KU-15 (bersama Madura FC)
Namun ironisnya, semua pencapaian ini diraih tanpa satu pun sentuhan dari Pemerintah Kabupaten Garut.
“Anak-anak Garut yang berprestasi justru lebih dihargai daerah lain. Ini menyedihkan. Mereka akhirnya membela klub luar daerah, bahkan provinsi lain,” tambah Waskandar.
Sebagai tenaga pendidik, Waskandar juga mengkritisi fasilitas olahraga milik pemerintah yang terlalu mahal. “Lapangan Adiwijaya misalnya, terlalu mahal untuk SSB kecil. Bagaimana mungkin anak-anak Garut bisa berkembang?” ujarnya.
Ia membandingkan dengan fasilitas di negara maju yang memberi akses gratis bagi anak-anak berbakat demi mendukung perkembangan potensi usia dini.
Waskandar menegaskan perlunya kebijakan yang lebih berpihak pada pengembangan minat dan bakat generasi muda Garut. Ia menyarankan agar ada beasiswa berbakat non-akademik, alokasi khusus pembinaan olahraga, serta akses fasilitas latihan yang murah bahkan gratis.
“Jika tidak ada perhatian serius, anak-anak hebat Garut akan terus jadi milik daerah lain. Sayang sekali jika kita tidak belajar dari kisah ini,” tegasnya.
Miraj Rizky Sulaeman saat ini duduk di kelas XI SMAN 1 Tangerang dan tinggal di asrama Farmel, Tangerang. Ia adalah putra keenam dari pasangan guru yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan perjuangan anak-anak Garut.
Penulis : F Boy
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Nihil Dukungan Pemerintah, Anak seorang Guru di Garut Tembus Prestasi Sepak Bola Tingkat Nasional hingga Luar Negeri












