Global Expose TV Kabupaten Bandung Barat – Pemberian tanda kehormatan Satya Lencana dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama tingkat Kabupaten Bandung Barat menuai tanda tanya. Penghargaan yang sejatinya diperuntukkan bagi aparatur berprestasi itu, kini justru memantik bisik-bisik miring di internal maupun publik.

Pasalnya, penghargaan tersebut diduga diberikan kepada sosok berinisial BM, yang menurut sejumlah sumber jarang terlihat menjalankan tugas secara aktif di lingkungan kamenag Kabupaten Bandung Barat, khususnya di KUA Kecamatan Batujajar, tempat yang bersangkutan tercatat sebagai penyuluh agama. “Yang dipertanyakan bukan orangnya, tapi prosesnya,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya, Selasa (4/1/2026).
Menurut informasi yang beredar, BM diketahui memiliki banyak peran di luar institusi negara, mulai dari pimpinan pondok pesantren, Ketua MUI Kecamatan Batujajar, hingga pengelola KBIHU Banuraja. Namun, sejumlah pihak mempertanyakan kontribusi dan kinerja nyata yang bersangkutan sebagai ASN atau staf di lingkungan kamenag.
Ironisnya, Satya Lencana tersebut diserahkan secara resmi saat upacara HAB ke-80, dengan Wakil Bupati Bandung Barat bertindak sebagai inspektur upacara. Momentum sakral yang seharusnya menjadi ajang penghargaan bagi aparatur berdedikasi tinggi, justru dinilai berpotensi mencederai makna penghargaan itu sendiri. “Kalau benar yang bersangkutan jarang menjalankan tugas, ini bisa mencoreng citra institusi. Penghargaan negara jangan sampai salah alamat,” ujar sumber lainnya.
Sejumlah pegawai di lingkungan kamenag KBB disebut-sebut merasa miris, lantaran masih banyak aparatur yang bekerja penuh, disiplin, dan berprestasi, namun justru luput dari apresiasi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kamenag Kabupaten Bandung Barat belum memberikan keterangan resmi terkait dasar penilaian dan mekanisme pemberian Satya Lencana tersebut. Upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
Publik pun berharap, evaluasi internal dilakukan secara terbuka dan profesional, agar penghargaan negara tidak sekadar menjadi seremoni, melainkan benar-benar mencerminkan integritas, loyalitas, dan kinerja aparatur.”Sebab, jika tidak, Satya Lencana berisiko kehilangan makna, dan hanya tinggal nama — berkilau di dada, namun kosong dalam makna.
Penulis : Deni Surya Gemilang
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Penghargaan Satya Lencana Dipertanyakan, Kinerja atau Sekadar Formalitas?












