Akademisi Ingatkan Densus 88: Terorisme Era Digital Tak Bisa Lagi Dilawan dengan Cara Lama

Kamis, 21 Mei 2026 - 08:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Global Expose TV Jakarta, 20 Mei 2026 — Ancaman terorisme kini berubah wajah. Tidak lagi selalu bergerak melalui organisasi tertutup dan jaringan konvensional, ekstremisme modern justru tumbuh diam-diam melalui ruang digital, algoritma media sosial, komunitas virtual, hingga krisis psikologis generasi muda.

Fenomena itu menjadi sorotan utama dalam Bedah Buku “Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital” pada rangkaian Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono, Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo, serta sejumlah akademisi dan pakar lintas disiplin.

Dalam forum itu, Wakapolri menegaskan bahwa negara tidak boleh lagi menghadapi ancaman terorisme dengan pola pikir lama.

“Kita menghadapi ancaman yang bergerak melalui ruang digital, algoritma, dan fragmen ideologi yang sulit dipetakan. Negara tidak boleh hadir hanya saat api sudah membesar. Pencegahan sosial harus lebih dulu diperkuat,” tegas Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo.

Menurutnya, penanggulangan terorisme modern harus mengedepankan literasi digital, perlindungan anak, dan kemampuan masyarakat membaca risiko sejak dini.

Senada, Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn.) Eddy Hartono menilai ancaman ekstremisme saat ini tidak lagi bisa dibebankan hanya kepada aparat keamanan.

“Ancaman ini lintas sektor, lintas ruang, dan lintas generasi. Karena itu, pencegahannya harus dibangun melalui kolaborasi aparat, dunia pendidikan, keluarga, komunitas, hingga platform digital,” ujarnya.

Sementara itu, Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo menegaskan bahwa pola ekstremisme saat ini jauh lebih cair dan sulit terdeteksi.

“Ancaman sekarang lebih personal, lebih tersembunyi, dan sering kali berawal dari paparan digital yang tidak terlihat. Karena itu pendekatan penanggulangan harus lebih adaptif dan berbasis pencegahan,” katanya.

Sejumlah akademisi yang hadir turut memberikan catatan kritis terhadap pola penanganan terorisme modern.

Psikolog forensik Dr. Zora Arfina Sukabdi menilai proses radikalisasi di era digital tidak lagi selalu berlangsung bertahap seperti teori klasik.

“Paparan digital bisa menciptakan lompatan radikalisasi secara cepat, terutama pada anak muda yang mengalami alienasi sosial dan kehilangan makna hidup,” ungkapnya.

Guru Besar hukum pidana Prof. Harkristuti Harkrisnowo menyoroti bagaimana kelompok ekstrem kini membangun keterikatan emosional dan identitas digital untuk menarik generasi muda.

Menurutnya, strategi penanggulangan harus tetap berpijak pada prinsip hak asasi manusia dan kebijakan berbasis bukti ilmiah.

Di sisi lain, psikolog forensik Dra. Adityana Kasandra Putranto mengingatkan bahwa luka psikologis sering menjadi pintu masuk radikalisasi.

“Perundungan, keterasingan sosial, hingga krisis identitas dapat membuat seseorang lebih mudah terpapar narasi ekstrem,” jelasnya.

Sementara pakar analisis data Dr. Ismail Fahmi menilai teknologi kecerdasan buatan dan analisis perilaku digital perlu diperkuat sebagai instrumen deteksi dini.

Meski datang dari latar belakang berbeda, para akademisi memiliki kesimpulan yang sama: terorisme modern tidak lagi bergerak dengan pola lama, sehingga penanganannya pun tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama.

Ancaman kini lahir dari kombinasi algoritma, budaya digital, krisis psikologis, dan dinamika sosial yang semakin kompleks. Karena itu, penanggulangan terorisme ke depan harus menggabungkan pendekatan keamanan, pendidikan, teknologi, kesehatan mental, dan perlindungan generasi muda secara bersamaan.

Rakernis Densus 88 AT Polri Tahun Anggaran 2026 pun menjadi momentum memperkuat strategi penanggulangan terorisme yang lebih prediktif, preventif, dan adaptif menghadapi ancaman era digital.

Facebook Comments Box

Penulis : S Bahri dan team

Editor : Korwil PROV Kaltim

Sumber Berita: Akademisi Ingatkan Densus 88: Terorisme Era Digital Tak Bisa Lagi Dilawan dengan Cara Lama

Berita Terkait

Perkuat Sinergi Pengamanan, Kapolda Kaltim Terima Audiensi Ditjen Pemasyarakatan
Kasus Dugaan Pemerkosaan di Berau Terungkap, Tersangka Dibekuk Jatanras di Balikpapan
Gerak Cepat Polisi dan Petugas Gabungan Padamkan Karhutla di Manggar, 600 Meter Persegi Lahan Terbakar
Forkopimda Kaltim Perkuat Sinergi Hadapi Karhutla dan Ancaman Krisis Energi di Makodam VI/Mulawarman
Sinergi Tanggap Bencana Karhutla, Brimob Kaltim Bersama BPBD Padamkan Kebakaran Lahan 100 Hektar di Kutai Barat
Tanggap Karhutla, Brimob Kaltim Bergerak Cepat Lakukan Pemadaman dan Pendinginan di Manggar
Perdarahan Otak 110 CC, Forensik Ungkap Penyebab Kematian Warga Binaan Lapas Balikpapan
TANJAKAN MAUT GUNUNG SORUQ: Bus DAMRI dan Truk Bertabrakan, 1 Orang Tewas, 2 Luka Berat
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:28 WIB

Perkuat Sinergi Pengamanan, Kapolda Kaltim Terima Audiensi Ditjen Pemasyarakatan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:23 WIB

Kasus Dugaan Pemerkosaan di Berau Terungkap, Tersangka Dibekuk Jatanras di Balikpapan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Gerak Cepat Polisi dan Petugas Gabungan Padamkan Karhutla di Manggar, 600 Meter Persegi Lahan Terbakar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Forkopimda Kaltim Perkuat Sinergi Hadapi Karhutla dan Ancaman Krisis Energi di Makodam VI/Mulawarman

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Sinergi Tanggap Bencana Karhutla, Brimob Kaltim Bersama BPBD Padamkan Kebakaran Lahan 100 Hektar di Kutai Barat

Berita Terbaru