Global Expose TV Kabupaten Aceh Timur – Nasib memprihatinkan dialami warga Desa Keude Dua, Kecamatan Darul Ihsan, dan Desa Bantayan Timur, Kecamatan Idi Tunong. Jembatan atau titi yang menjadi akses utama penghubung kedua desa hingga kini masih terbengkalai setelah rusak diterjang banjir, memaksa masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, menyeberangi sungai menggunakan perahu seadanya. Jumat (17/7/2026).
Ironisnya, penyeberangan tersebut bukan sekadar sulit, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa. Sungai yang mereka lintasi merupakan aliran hulu Sungai Ulee Tutu, Idi Rayeuk, yang dikenal sebagai kawasan rawan kemunculan buaya. Meski dihantui risiko setiap hari, para pelajar tetap harus menyeberang demi menggapai pendidikan.
Kondisi ini memantik keprihatinan masyarakat. Mereka menilai lambannya penanganan infrastruktur telah memaksa anak-anak mempertaruhkan keselamatan hanya untuk berangkat dan pulang sekolah. Di sisi lain, aktivitas warga, distribusi hasil pertanian, hingga akses terhadap pelayanan kesehatan juga ikut terganggu akibat putusnya jalur penghubung tersebut.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Timur beserta instansi terkait segera mengambil langkah nyata untuk membangun kembali jembatan yang rusak. Infrastruktur tersebut bukan sekadar penghubung dua desa, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik.
Warga berharap pemerintah tidak menunggu jatuhnya korban sebelum bertindak. Perbaikan jembatan dinilai sebagai kebutuhan yang mendesak demi menjamin keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah yang setiap hari harus menghadapi ancaman nyata di sungai hanya untuk menuntut ilmu.
“Pendidikan seharusnya membuka jalan menuju masa depan, bukan memaksa anak-anak mempertaruhkan nyawa di tengah sungai yang rawan buaya akibat infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki.”
Penulis : S Bahri dan team
Editor : Korwil
Sumber Berita: Anak Sekolah Pertaruhkan Nyawa, Jembatan Penghubung Dua Desa di Aceh Timur Tak Kunjung Diperbaiki












