Global Expose TV Kabupaten Cianjur – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Qudwah yang berlokasi di Kampung Ciwalen, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, diduga kuat hanya digunakan sebagai alat untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan.
Elis Masridah, selaku Kepala Sekolah PKBM Al Qudwah, saat ditemui pihak media di kantor Kordik Kecamatan Campaka pada 6 Maret 2025, memberikan respons yang mengejutkan. Ketika tim media meminta izin untuk merekam wawancara dalam rangka peliputan, ia dengan tegas menolak.
“Oh, mohon maaf, Pak, saya nggak mau direkam karena ini privasi saya,” ujar Elis.
Tim media pun mencoba menjelaskan bahwa pertanyaan yang akan diajukan bukanlah terkait urusan pribadinya, melainkan menyangkut hal-hal yang bersifat publik mengenai lembaga PKBM yang ia pimpin.
Selanjutnya, tim media menanyakan jumlah siswa paket A, B, dan C, serta jumlah dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk tahun anggaran 2024 dan tahap pertama 2025 yang baru saja dicairkan. Dalam menjawab jumlah siswa, Elis cukup lugas.
“Untuk paket A, PKBM kami tidak menyelenggarakan, Pak. Kami hanya melaksanakan paket B dan C, dengan pembelajaran yang diadakan pada hari Sabtu dan Minggu,” jelasnya.
“Nah, untuk murid paket B ada 221 orang, sedangkan paket C berjumlah 187 orang,” tegasnya.
Namun, ketika ditanya mengenai jumlah dana BOP yang diterima oleh PKBM Al Qudwah, Elis tampak enggan atau takut untuk mengungkapkannya. Ia bahkan sempat menelepon seseorang dalam waktu cukup lama sebelum kembali menemui tim media.
“Jadi begini ya, Pak, untuk pertanyaan itu saya agak trauma menjawab, takut salah. Saya juga baru menjabat di PKBM ini sekitar delapan bulan, dan yang pasti, saya tidak bisa menjawabnya karena ini privasi saya. Mohon maaf, saya harus menghadiri acara di Cianjur, jadi saya tidak bisa memberikan tanggapan lebih lanjut,” ujarnya.
Terkait dugaan tersebut, tim media mendatangi langsung lokasi PKBM untuk mengambil dokumentasi. Diketahui, PKBM Al Qudwah berdampingan dengan sebuah pesantren. Saat tim media menanyakan kepada seorang santri mengenai jumlah siswa yang aktif belajar di PKBM tersebut, ia menjawab:
“Paling lima sampai sepuluh orang, Pak.”
Berdasarkan data yang dihimpun, dugaan penyimpangan semakin kuat. Ruangan kelas di PKBM tampak tidak pernah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sebanyak 408 murid yang terdaftar. Selain itu, tidak ditemukan papan informasi terkait penerimaan dan realisasi penggunaan dana BOP.
Diketahui pula bahwa siswa PKBM Al Qudwah menerima bantuan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk tahun anggaran 2024, yakni 122 murid untuk paket B dan 30 murid untuk paket C. Namun, tim media belum dapat mengonfirmasi apakah dana tersebut sudah dicairkan atau belum, mengingat Elis selaku kepala sekolah enggan memberikan waktu lebih banyak untuk konfirmasi lebih lanjut.
Penulis : Hikman Raksa SH
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Pendidikan Kesetaraan PKBM Al Qudwah Diduga Hanya Dijadikan Ajang Bisnis oleh Oknum Penyelenggara












