Global Expose TV Kabupaten Cirebon – Dihari Hari Raya Idulfitri, tradisi nyekar atau berziarah ke makam keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur serta momen bagi keluarga untuk berdoa dan mengenang jasa para almarhum dan almarhumah yang telah berpulang kerahmatullah.

Nyekar umumnya dilakukan di hari-hari terakhir Ramadan atau menjelang Lebaran, dan dihari lebaran. Keluarga berbondong-bondong mendatangi makam orang tua, kakek-nenek, serta kerabat terdekat. Mereka membersihkan area sekitar makam, menaburkan bunga, dan membaca doa serta ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk mendoakan arwah yang telah meninggal dunia.
Menurut salah satu warga, Ahmad Fauzi, warga dusun lempong, desa jatianom, kecamatan susukan, kabupaten cirebon, tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi keluarga. “Setiap tahun kami sekeluarga selalu menyempatkan diri untuk nyekar. Ini adalah wujud bakti kami kepada orang tua dan leluhur. Selain itu, tradisi ini juga mempererat tali persaudaraan,” ujar Ahmad Fauzi, saat ditemui di TPU di Dusun Lempong pada 31/03/2025.
Di berbagai daerah, tradisi nyekar memiliki keunikan tersendiri. Di salah satu keluarga besar, misalnya, ziarah sering diiringi dengan tahlilan dan pembacaan Yasin bersama. Sementara di beberapa wilayah lain, masyarakat juga membawa kitab suci alqur’an atau menabur bunga sebagai simbol penghormatan.
Pakar budaya dari Universitas Indonesia, Dr. Siti Nurhayati, menjelaskan bahwa nyekar telah menjadi bagian dari akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. “Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang selaras dengan ajaran agama, yakni menghormati orang tua dan leluhur serta mempererat hubungan antar-keluarga,” ungkapnya.
Meski demikian, di tengah keramaian di waktu lebaran tiba setelah selesai shalat eide beberapa waktu lalu, tradisi nyekar sempat mengalami penyesuaian. Banyak keluarga memilih berdoa di rumah atau melakukan ziarah dengan jumlah anggota yang lebih sedikit demi menjaga persaudaraan supaya bisa bertemu di saat leberan tiba.
Kini, dengan situasi yang lebih kondusif, masyarakat kembali menjalankan tradisi nyekar seperti sedia kala. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dan budaya tetap dijunjung tinggi, seiring dengan perkembangan zaman.
Dengan tetap menjaga kesakralan dan esensi dari tradisi ini, nyekar saat Lebaran bukan hanya menjadi ajang mengenang mereka yang telah tiada, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya kebersamaan, doa, dan penghormatan kepada orang-orang yang berjasa dalam kehidupan.
Penulis : Nasrudin Badoi
Editor : Sukadi
Sumber Berita: Tradisi Nyekar dihari Lebaran: Bentuk Penghormatan dan Doa untuk Leluhur












