Global Expose TV Kabupaten Labuhanbatu Utara – Empat anak yatim-piatu di Desa Batu Tunggal, Kecamatan NA IX–X, Kabupaten Labuhanbatu Utara, seakan ditelan sistem yang semestinya melindungi mereka. Sejak ibunya meninggal pada 25 Maret 2024, keluarga miskin ini hidup tanpa rumah, tanpa ladang, dan tanpa kebun. Namun yang lebih menyakitkan, bantuan sosial (bansos) yang seharusnya menjadi hak mereka justru diduga dialihkan oleh oknum desa—dan bahkan disebut-sebut didukung pembiaran Pemkab Labura melalui hasil kerja Kepala Desa Indra Sugiarto, SH.
Semasa hidup, ibu mereka rutin menerima bansos berupa kupon beras dan bantuan yang disalurkan melalui Kantor Pos Kampung Pajak. Namun setelah wafat, hak itu seperti lenyap. Data masih tercatat, tapi bantuan tak lagi sampai ke tangan ahli waris.
Daud Rinaldy Rangkuti, ayah dari empat anak tersebut, mengaku kuatir bahwa nama dan data penerima atas dirinya telah “dimainkan”. Padahal selama ini ia yang mengambil langsung bantuan baik di Kantor Pos maupun dari desa.
Pada Rabu, 19 November 2025, sekitar pukul 08.30 WIB, reporter Global Expose TV Labuhanbatu yang melintas di depan Kantor Desa Batu Tunggal melihat warga mengantre bansos di Gedung Serbaguna desa.
Ketika kembali sore harinya, pukul 16.00 WIB, penyaluran bansos masih berlangsung. Warga terlihat menerima dua karung beras 10 kg dan minyak makan 4 kg.
Saat diwawancarai, seorang anggota Linmas—yang meminta identitasnya disembunyikan—menyatakan, “Nanti saya kroscek, Pak, datanya ada atau tidak,” sambil menyebut ulang daftar nama penerima bansos. Ia mengaku Kepala Desa, staf, dan kaur desa sudah pulang.
Namun kecurigaan justru makin tebal.
Reporter menyaksikan sendiri sejumlah warga yang tergolong mampu justru keluar membawa bansos, sementara anak-anak yatim-piatu yang hidup tanpa rumah malah tidak menyentuh sebutir beraspun.
Keanehan lain muncul pada Selasa malam, 24 November 2025, sekitar pukul 21.00 WIB. Seorang warga Dusun Batu terlihat mendatangi rumah kakaknya, meminta agar membawa KTP ke kantor desa untuk mendapatkan bansos. Padahal, secara ekonomi warga tersebut berada jauh lebih baik dibanding keluarga yatim-piatu yang kini menumpang di rumah anaknya yang sudah berkeluarga.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar:
Apakah data penerima bansos benar-benar dialihkan? Apakah aparat desa bermain? Dan benarkah Pemkab Labura menutup mata?
Publik kini menanti jawaban transparan dari Pemerintah Desa Batu Tunggal dan pihak terkait.
Sebab bagi anak yatim-piatu tersebut, bansos bukan sekadar bantuan—melainkan harapan terakhir agar mereka tetap bertahan hidup.
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Sukadi
Sumber Berita: “Diduga Ada Permainan Kotor! Bansos Anak Yatim-Piatu di Batu Tunggal ‘Raib’, Data Diklaim Dialihkan Oknum Desa”












