Global Expose TV Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya – Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Pol. Dr. M. Fadil Imran, M.Si., menegaskan komitmen Polri dalam mentransformasi sistem pelayanan kepada masyarakat melalui penguatan integrasi Layanan Polisi 110, Command Center, SPKT, Samapta, hingga fungsi patroli. Fokus utama transformasi tersebut adalah memastikan setiap laporan masyarakat ditindaklanjuti secara cepat, terkoordinasi, dan tuntas.
Penegasan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Polresta Sorong Kota, Papua Barat Daya, Kamis (16/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Komjen Pol. Fadil Imran meninjau langsung operasional Layanan Polisi 110, Command Center, serta mekanisme koordinasi antara operator, SPKT, Samapta, dan personel di lapangan.
Data Posko Command Center 110 Mabes Polri menunjukkan kinerja pelayanan Polresta Sorong Kota terus mengalami peningkatan. Sepanjang Januari–Juni 2026, layanan menerima 3.392 panggilan dengan 2.672 panggilan berhasil dijawab dan success call rate mencapai 88,18 persen, meningkat dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 80,37 persen. Capaian itu juga menempatkan Polresta Sorong Kota sebagai peringkat kedua di jajaran Polda Papua Barat Daya.
Meski demikian, Fadil menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan tidak hanya diukur dari banyaknya panggilan yang dijawab, tetapi dari kecepatan dan efektivitas tindak lanjut di lapangan.
“Telepon terjawab adalah awal dari pelayanan, bukan akhir. Yang harus kita pastikan adalah setelah masyarakat menyampaikan masalahnya, siapa yang bergerak, berapa lama polisi sampai, dan apakah persoalan masyarakat benar-benar tertangani,” tegas Fadil.
Ia menekankan perlunya perubahan paradigma pelayanan, dari sekadar menerima laporan menjadi memastikan masyarakat benar-benar memperoleh bantuan hingga persoalannya terselesaikan.
Menurutnya, seluruh proses harus berjalan dalam satu sistem terpadu, mulai dari laporan diterima melalui Layanan Polisi 110, diverifikasi, diteruskan kepada personel terdekat, ditindaklanjuti di lapangan, hingga hasil penanganannya dimonitor secara menyeluruh.
Komjen Pol. Fadil juga meminta setiap satuan mulai mengukur response time secara bertahap, mulai dari waktu laporan diterima, penugasan personel, hingga kedatangan anggota di lokasi. Pengukuran tersebut dinilai penting untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Selain itu, ia menekankan pentingnya integrasi lintas fungsi kepolisian agar masyarakat tidak dibebani oleh struktur organisasi internal.
“Masyarakat tidak perlu memikirkan ini urusan fungsi yang mana. Bagi masyarakat sederhana: saya membutuhkan polisi. Tugas kitalah memastikan kebutuhan itu diteruskan kepada personel yang paling tepat dan paling cepat,” ujarnya.
Menurutnya, Layanan Polisi 110, SPKT, Samapta, patroli, Lalu Lintas, hingga Reserse harus menjadi satu kesatuan sistem pelayanan yang mampu mengubah setiap informasi menjadi keputusan operasional dan tindakan nyata di lapangan.
Dalam arahannya, Fadil juga memperkenalkan paradigma baru mengenai fungsi Command Center. Ia menegaskan bahwa pusat komando bukan sekadar ruangan berisi layar besar atau teknologi modern, melainkan pusat pengambilan keputusan yang mampu menerima informasi, menganalisis situasi, menggerakkan personel, dan memastikan setiap persoalan masyarakat tertangani.
Ia pun meminta seluruh jajaran tidak menunggu fasilitas yang serba lengkap untuk membangun sistem pelayanan yang efektif. Menurutnya, Command Center dapat berfungsi optimal selama didukung operator yang siap, Layanan Polisi 110 yang aktif, komunikasi radio yang terhubung, data personel yang akurat, serta pimpinan yang mampu mengambil keputusan secara cepat.
Di sisi lain, Astamaops Kapolri juga mendorong pemanfaatan data gangguan kamtibmas sebagai dasar penyusunan strategi pencegahan kejahatan. Berdasarkan data DORS Polri, sepanjang 2025 tercatat 2.429 kasus kejahatan di wilayah hukum Polresta Sorong Kota, sedangkan Januari–Juni 2026 tercatat 1.503 kasus. Kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) masih menjadi kejahatan yang paling dominan.
Fadil meminta data tersebut dianalisis secara mendalam melalui pemetaan lokasi, waktu, dan pola kejahatan sehingga patroli dapat dilaksanakan secara lebih tepat sasaran.
“Data harus bisa menjawab di mana kejahatan paling sering terjadi, kapan waktu paling rawan, bagaimana polanya, dan patroli mana yang paling dekat. Dari situ kita bisa menggerakkan anggota dengan lebih tepat,” katanya.
Dengan pendekatan berbasis data, Polri diharapkan mampu mengubah pola kerja dari yang semula lebih reaktif menjadi lebih preventif melalui kehadiran personel di titik dan waktu yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Menutup arahannya, Komjen Pol. Fadil Imran menegaskan bahwa seluruh transformasi tersebut bertujuan menghadirkan pelayanan Polri yang semakin cepat, humanis, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Masyarakat tidak menilai seberapa canggih teknologi yang kita miliki ataupun seberapa besar layar yang ada di Command Center. Masyarakat menilai apakah ketika membutuhkan pertolongan, polisi dapat hadir dengan cepat dan membantu menyelesaikan masalahnya,” pungkasnya.
Penulis : S Bahri
Editor : Korwil Provinsi Kaltim
Sumber Berita: Astamaops Kapolri Genjot Transformasi Layanan 110 dan Command Center, Respons Cepat Jadi Tolak Ukur Pelayanan Polri












