Global Expose TV Kabupaten Pandeglang Banten — Program ketahanan pangan tematik yang menjadi prioritas pemerintah pusat melalui Kementerian Desa terus menunjukkan hasil nyata di tingkat lokal. Salah satu contoh keberhasilan tersebut datang dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Jaya Laksana di Desa Munjul, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang sukses mengembangkan budidaya ikan lele sebagai sektor unggulan desa.

Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa. Hingga saat ini, budidaya lele yang dijalankan BUMDes Mitra Jaya Laksana terus berjalan stabil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Dalam satu siklus produksi, BUMDes menebar sekitar 120 ribu bibit ikan lele. Dari jumlah tersebut, hasil panen yang diperoleh mencapai kurang lebih 5 ton setiap tiga bulan sekali. Capaian ini dinilai cukup potensial dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Direktur BUMDes Mitra Jaya Laksana, Dani Nurhadi, mengungkapkan bahwa keberhasilan budidaya lele tidak terlepas dari strategi efisiensi, khususnya dalam pengelolaan pakan. Ia menjelaskan bahwa dalam budidaya lele, kebutuhan pakan umumnya memiliki rasio satu banding satu, yakni satu kilogram pakan untuk satu kilogram ikan lele.
Namun, untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil, pihaknya memanfaatkan pakan alternatif atau pakan buatan sebagai solusi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pakan industri.

Kami berupaya menggunakan pakan alternatif agar hasil lebih maksimal dan biaya lebih efisien, tidak harus bergantung 100 persen pada pakan pabrik,” jelasnya.
Dengan harga jual rata-rata sekitar Rp23 ribu per kilogram, hasil panen ini mampu memberikan pemasukan yang cukup menjanjikan bagi BUMDes serta mendorong perputaran ekonomi di tingkat desa.
“Alhamdulillah, budidaya ini berjalan lancar. Setiap tiga bulan kami bisa panen dengan hasil yang baik. Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan ekonomi masyarakat desa,” tambahnya.
Menariknya, operasional budidaya yang tergolong besar ini dikelola secara efisien hanya oleh satu orang tenaga kerja. Sistem kerja yang diterapkan bersifat penuh selama 24 jam, di mana pekerja tinggal langsung di lokasi budidaya guna memastikan seluruh proses berjalan optimal.
Tenaga kerja tersebut menerima upah setara Upah Minimum Regional (UMR), yakni sekitar Rp3,2 juta per bulan. Pekerja bertanggung jawab atas berbagai aspek teknis, mulai dari pemberian pakan, pengawasan kualitas air, hingga pemantauan pertumbuhan ikan secara berkala.
Efisiensi ini menjadi salah satu keunggulan dalam pengelolaan usaha BUMDes. Namun demikian, sejumlah pihak menilai ke depan perlu adanya penambahan tenaga kerja agar beban kerja lebih seimbang sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.
Program budidaya lele ini mendapat sambutan positif dari warga Desa Munjul. Selain meningkatkan pendapatan desa, program ini juga dinilai mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dan menjadi contoh pengelolaan potensi lokal yang produktif.
Pemerintah desa berharap keberhasilan ini dapat terus dikembangkan, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Ke depan, BUMDes Mitra Jaya Laksana juga berencana memperluas unit usaha lain guna memperkuat ekonomi desa serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Dengan pengelolaan yang konsisten, transparan, dan berorientasi pada pemberdayaan, BUMDes Mitra Jaya Laksana diharapkan dapat menjadi role model bagi desa-desa lain dalam mengoptimalkan potensi lokal serta mendukung ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Penulis : Iwan Gejes
Editor : Iwan Gejes
Sumber Berita: Pandeglang Banten












