Global Expose TV Kabupaten Pandeglang, Banten – Program revitalisasi gedung sekolah yang digulirkan pemerintah di sejumlah lembaga pendidikan kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, pembangunan revitalisasi di dua Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) di wilayah Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang, yakni SMP IT As Salam dan SMP IT Daarul Uzma, menjadi sorotan setelah awak media melakukan pemantauan langsung ke lokasi proyek.

Dari hasil pantauan di lapangan, kedua proyek revitalisasi tersebut diketahui menggunakan material bata ringan (hebel) sebagai bahan utama konstruksi dinding bangunan. Penggunaan material tersebut dinilai sah dan umum digunakan dalam pembangunan modern, namun pelaksanaannya tetap harus mengacu pada spesifikasi teknis yang telah ditetapkan agar kualitas bangunan terjamin.

Di SMP IT As Salam yang berlokasi di Desa Ganggaeng, proyek revitalisasi tercatat memiliki nilai anggaran sebesar Rp2.499.203.000. Anggaran yang tergolong besar tersebut dikelola melalui mekanisme swakelola oleh pihak penerima manfaat melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).

Besarnya nilai anggaran yang digelontorkan negara untuk pembangunan tersebut tentu menuntut adanya pengawasan yang ketat, baik dari pihak internal maupun eksternal. Transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pekerjaan menjadi hal yang tidak dapat ditawar demi memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Sementara itu, revitalisasi SMP IT Daarul Uzma yang berlokasi di Kampung Pasir Pendeuy, Desa Cililitan, juga tengah berlangsung dengan nilai anggaran mencapai Rp1.443.319.000. Proyek tersebut turut menggunakan bata ringan dalam proses pembangunannya.
Pengamat konstruksi menilai bahwa sistem swakelola memiliki kelebihan karena melibatkan langsung pihak sekolah sebagai penerima manfaat. Namun di sisi lain, mekanisme tersebut juga memerlukan kehati-hatian ekstra dalam pengelolaan anggaran dan pelaksanaan teknis pekerjaan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Mengingat anggaran yang digunakan mencapai miliaran rupiah, seluruh tahapan pekerjaan harus dilaksanakan sesuai gambar kerja, spesifikasi teknis, dan petunjuk pelaksanaan yang berlaku. Kualitas bangunan harus menjadi prioritas utama karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan peserta didik,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat berharap pembangunan revitalisasi yang saat ini berjalan tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga menghasilkan bangunan yang kokoh, aman, dan memiliki kualitas sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Pengawasan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, dinilai penting guna memastikan proyek berjalan sesuai aturan dan terhindar dari potensi penyimpangan.
Program revitalisasi sekolah sejatinya merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu sarana dan prasarana pendidikan. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus dilakukan secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab agar tujuan peningkatan kualitas pendidikan benar-benar tercapai.
Dengan total anggaran hampir Rp4 miliar untuk dua sekolah tersebut, publik tentu berharap pembangunan dapat menjadi contoh pelaksanaan proyek pendidikan yang berkualitas, tepat sasaran, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi penerus bangsa.
Penulis : Iwan GejesRed
Editor : Iwan Gejes
Sumber Berita: Revitalisasi Dua SMP IT di Kecamatan Picung Telan Anggaran Miliaran Rupiah, Penggunaan Bata Ringan Jadi Sorotan












